Cerpen: Indonesia, Makassar dan Refleksi Gerakannya

makassarDua kesadaran berkumpul dalam hubungan mereka. Abdi, yang seorang mahasiswa baru, bagai seorang pencinta yang sedang mabuk dan dibutakan, semangatnya menggebu karena dijejali doktrin mahasiswa ideal sebagai agen perubahan, social control dan  moral force atas realitas keindonesiaan, bertemu dengan Sudding, seorang anak pemulung dua belasan tahun, polos dan juga sedang bersemangat meng-adik-kan diri pada maba-maba yang beberapa waktu itu merintis sekolah rakyat.

Setiap sore Abdi dan kawan-kawan akan datang mengajarkan baca-tulis atau hitung-hitungan.Mereka sendiri sebenarnya minus pembekalan sebagai pengajar, sehingga tampak canggung dan semrawut dalam interaksi mereka.Maba-maba cenderung bingung bahkan mungkin muak mengahadapi kepolosan dan ke-jancuk-ansikap anak-anak ini.Anak-anak kecil yang rata-rata agresif ini bertemu dengan maba-maba yang nampaknya juga masih kekanak-kanakan, praktis jadi serampangan.Setiap hari, kegiatan sukarela itu kehilangan personilnya satu-persatu.Hanya Abdi yang nampaknya merasakan hal tersebut yang masih bertahan.

Sudding tak melanjutkan sekolahnya saat masih dikelas empat SD dua tahun lalu, katanya malas, guru-guru galak dan kerap kali memukulnya, Ia jadi tak suka kesekolah, dan menjadi malas belajar lagi sejak dia bisa mengumpulkan uang dari usahanya sendiri. Selain memulung yang paling Ia senangi adalah menjadi calo didepan pusat-pusat perbelanjaan, menyeberangkan ibu-ibu, remaja, anak-anak sampai laki-laki ngondek,itupun setelah berebut lahan dengan anak kompleks (pemulung) sebelah. Tapi Ia pantang meminta-minta, bagi mereka memulung lebih tinggi prestisenya dikalangan pekerja dibawah umur itu. Ia mewakili penggambaran dari rata-rata anak-anak ditempat tersebut, walau ada juga sebagian anak yang bersekolah dan tak dibiarkan untuk rutin mencari uang oleh bapak ibunya, hanya boleh ketika ia libur.

Papan tulis sekolah rakyat akhirnya hanya jadi dinding rumah Sudding, itu juga karena rumah mereka memang dibangun dari sampah-sampah bangunan yang disusun menyerupai rumah panggung, tanpa tempat mandi-cuci-kakus yang layak menurut standar Abdi.Rumah mereka dibangun disisa-sisa tanah dibelakang tembok perumahan –penegas kesenjangan sosial– yang menjorok kerawa-rawa menuju sungai Tallo, hanya pemandangan kesungai itu sedikit hiburan bagi Abdi di saat petang.Sedangkan hiburan bagi mereka, keluarga pemulung, adalah bercengkrama didepan rumah mereka sehabis pulang memulung.Rata-rata mereka memiliki banyak anak, bisa mencapai belasan, bukan karena mitos banyak anak banyak rejeki, bagi mereka itu nonsense, tapi entahlah, minimnya pilihan hiburan bagi mereka dimalam harijadi spekulasi Abdi yang menyentilnakal saat itu.

Mamak Sudding sudah tua mungkin lima puluh tahunan, tapi Ia giat bekerja. Mamak yang buta huruf ini kadang membawa bekal dalam gerobak, persiapan untuk sehari penuh.Itu jika sedang sehat dan semangat-semangatnya untuk memenuhi gerobak dengan plastik-plastik bekas.“Bagaimana pemilihan caleg kali iniDaeng, masih ada tidak yang bagi-bagi uang!?”, celetuk Mamak Sudding pada koleganya yang nampaknya kerja di perkantoran, sembari membetulkan mulut anaknya pada puting susunya, sembari duduk sandar beristirahat setelah seharian penuh memulung. Bagi mereka politik sesederhana itu.Abdi mengernyitkan dahi, sesederhana itukah,mereka tak banyak berharap menuntut ketimpangan sosial, padahalmerekalah orang-orang yang langsung bersentuhan dengan kebobrokan peran bangsa.Sementara Abdi dan teman-teman mahasiswanya dengankesadaran yang tak bersentuhan langsung dengan kemiskinan malah berkoar-koar dijalan meneriakkan keadilan di Indonesia.Saat itu, Abdi berkutat kuat dengan idealismenya, sesederhana itu pula kah teman-teman dan aku berkoar-koar sementara kegiatan mengajar disekolah rakyat ini begitu berat dan menyiksa?Bagaimana seandainya aku dan kehidupanku yang dihadapkan pada kemiskinan ini?

Belakangan ini Abdi perlahan-lahan kehilangan semangatnya, Iajarang mengajar, selain karena kewalahan, kini Ia benar-benar mendalami makna sukarela.Lembaga mahasiswa telah menuntaskanprogram kerja sekolah rakyat.Kini Ia atheis pada gerakan mahasiswa. Hanya sesekali Abdi membawakan buku gambar dan pensil warna sekedar melihat potensi adik-adiknya, tau-tau ada maestro lukis terlahir disudut kota Makassar itu. Tapi, pendidikan Indonesia nampaknya telah menang telak, melakukan penyeragaman bawah sadar, selain gambar gunung, sawah dan matahari, hanya akan ada gambar pantai, pohon kelapa, perahu dan matahari –lagi– ditambah gerombolan huruf M yang kakinya direnggangkan seperti mau split, katanyaitu burung.Jika sedang suntuk dengan perkuliahan, Abdi cukup mengajak mereka bermain bola, cukup dengan tendangan-tendangan kecil agar bola tak jauh masuk kerawa-rawa.

Sudding senang dengan Abdi, sebenarnya anak-anak ini awalnya seperti mengujikesabaran mahasiswa-mahasiswa baru yang mengajar disana, sengaja atau tidak,awalnya mereka yang agak brutalperlahan berubah.Ketika Abdi datang sendiri untuk mengajar, Sudding yang paling tua dari merekalah yang justru memarahi adik-adiknya ketika sulit untuk diatur, kadang itu cukup berhasil dengan dalih kasihan atas kedatangan Abdi yang konsisten dan menepati janji.Mereka nampaknya ingin melihat ketulusan dari kakak-kakak mahasiswa, yang memang seringkali di musim pengaderan menjadikan mereka objek moral.Abdi paham dan memperoleh pelajaran dari mereka walaupun belakangan juga menemui jalan buntu dalam dirinya sendiri.“Begitu sulit mengajar mereka”, ketus Abdi dalam hati.

Abdi harus pergi selama sebulan keluar daerah.Ia sudah keras pada dirinya –menguji idealismenya–, Ia secara jujur menemukan keterpaksaan dalam dirinya selama mengajar anak-anak pemulung itu. Sudding yang ditinggal Abdi kehilangan teman belajar dan bermain. Setiap lima menit sudding menelpon Abdi ketika Bapak Sudding jatuh sakit dan harus masuk rawat inap dirumah sakit.Abdi menghubungi teman-teman dimakassar untuk sekedar menjenguk Sudding –dan Bapaknya– yang kini sudah setiap menit mengirimi Abdi sms, sangat gelisah.Selama tiga hari Sudding bertingkah seperti itu, Abdi agak jengkel kemudian menelepon Sudding.“Janganmi setiap saat menelponatau sedikit-sedikit sms, nanti kalo pulang ka pasti kerumahmu ja lagi!!!”, hentak Abdi. “Oh, jadi tidak suka ki kak?”, suara Sudding melemah. “Iyo!”, ketus Abdi yang kemudian mematikan telepon.

Sejak saat itu Sudding tak lagi pernah menghubungi Abdi yang belakang hari juga nampaknya menyesal karena terlalu keras.Pertemuan-pertemuan mereka selanjutnya, Sudding menjadi dingin terhadap kedatangan Abdi, tak lagi akrab seperti sebelumnya. Abdi nampak tak begitu ingin memperbaiki hubungan mereka, enggan untuk membangun hubungan emosional semakin jauh, Ia takut lagi-lagi mengecewakan, jelas itu bukan gerakan sosial.

Hari-hari Abdi kemudian berkutat dengan kesadaran-kesadaran kritisnya, jalur yang dilaluinya dikampus kini dipenuhi gambar-gambar caleg, mall dan pusat perbelanjaan yang Ia beri perhatian khusus untuk diamati –tau-tau ada Sudding yang sedang mencalo, kemudian rumah-rumah karaoke, tata kota yang mengacaukan kesadarannya. Atau sesekali juga ada aksi mahasiswa yang kini Ia tidak lagi membabi buta untuk terlibat didalamnya karena bingung dengan analisis apa yang menyebabkan mereka harus tutup jalan, aksi tawuran antar kelompok, kepentingan ataupun etnis yang terjadi saat aksi mahasiswa sedang besar yang Ia curigai sebagai politik konspirasi oleh pemerintah atas aksi mahasiswa yang menolak pertambangan didaerah-daerah, kesemuanya berdialektika dalam pikirannya. “Orang bijak bayar pajak, hah! Tapi orang-orang yang hidup dari pajak itu juga bijak atau tidak!? Sontoloyo!!!” Ia memaki billboard dijalur menuju kampus yang setiap hari Ia lalui, Abdi marah, benar-benar muak dengan keadaan Indonesia, dengan pedagang langsat yang mencurangi timbangan yang dia anggap sama saja dengan para koruptor, semuanya menindas orang-orang, paling tidak orang yang sedang dalam kesadaran yang berkecamuk seperti Abdi. Uang lima milyar untuk sembilan perempuan penggoda guna memuaskan nafsu seorang politikus bejat sama saja dengan uang lima ribu rupiah bagi mahasiswa, seorang temannya yang aktivis,yang hobi menonton film bokep diwarnet.

Sementara itu, Sudding yang kini sudah tahu mengendarai sepeda motor, telah jarang ditemuinya, kata Mamaknya, “kerjanya sekarangmenjemput karung-karung plastik bekas yang kami kumpulkan, kemudian Ia antar ke penadah plastik bekas.”Ia dulu memang sering kali bermain sepeda dan balap-balapan dengan adik atau temannya sebaya, bercerita tentang keinginannya menonton balapan liar didepan kampus setiap malam minggu, dan tampak semangat ketika itu. Abdi kala itu berniat untuk sekedar mendampingi dan mengarahkannya.Namun kekecewaan yang mendalam membuat Sudding mampu melupakan angan-angan mereka. Kini, setelah pagi mengepul plastik, Sudding sudah kabur ke warnet sampai sore hari, sama sekali tak berniat lanjut sekolah dan jika sudah agak lebih besar Ia akan mengojek motor.

Abdi yang dipenuhi rasa bersalah tak mampu membendung air mata di senja itu pada pemandangan rawa-rawa menuju sungai Tallo. Baginya, pemimpin-pemimpin negeri tak lepas tanggungjawab terhadap anak-anak bangsa, yang jumlahnya jutaan, yang bernasib sama seperti Sudding dipenjuru-penjuru kota lain di Indonesia. Selain tanggungjawab dirinya tentunya, tehadap Sudding atas kesalahannya.Ia pun sebenarnya adalah korban. Dan akan semakin sengsara sebagai tumbal negara ini dan bagi dirinya sendiri, jika kemudian menyerahkan diri begitu saja diatas kesadaran dirinya yang telah terbentuk walaupun belum matang itu, jika Ia tidak keluar dari kondisi dirinya, mencari suatu nilai yang mutlak untuk diyakini, mungkin Tuhan dan ketuhanan, menjadi pemuda yang bermental baja dengan hati yang secara radikal melawan terhdap ketimpangan bangsanya. Tekadnya yang kuat untuk tidak hanya mencibir kebobrokan bangsa tentu akan melalui perjalan dengan berbagai ujian serupa itu, yang kemudian mungkin akan membentuk diri yang tangguh, yang berada ditengah-tengah masyarakat, hidup alami dan mengayomi, membimbing dan memimpin masyarakat kelak.

Sore itu menjadi janji yang paling sakral bagi diri Abdi, sebagai permintaan maafnya pada Sudding dan pelajaran yang telah diberikannya.Sudding sendiri nampaknya telah berjanji untuk tidak lagi percaya pada mahasiswa-mahasiswa yang kemudian datang mengajar kerumahnya.Seandainya saja Abdi tak bertahan mengajar disana kala itu, tentu Sudding tak akan kecewa demikian.

034/MAHESA/III/AP/2010

Komentar Anda?