<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>OLH MAHESA</title>
	<atom:link href="http://www.mahesa.or.id/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.mahesa.or.id</link>
	<description>Wadah Bhakti Para Adventurer, Environmentalis, dan Intelektual muda</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 May 2012 03:34:40 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Tanda-tanda Tubuh Kurang Oksigen Saat Naik Gunung</title>
		<link>http://www.mahesa.or.id/materi-pencinta-alam/mountaineering/tanda-tanda-tubuh-kurang-oksigen-saat-naik-gunung</link>
		<comments>http://www.mahesa.or.id/materi-pencinta-alam/mountaineering/tanda-tanda-tubuh-kurang-oksigen-saat-naik-gunung#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 03:34:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mahesa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mountaineering]]></category>
		<category><![CDATA[Pencinta Alam]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung]]></category>
		<category><![CDATA[naik gunung]]></category>
		<category><![CDATA[oksigen]]></category>
		<category><![CDATA[oxygen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mahesa.or.id/lain-lain/tanda-tanda-tubuh-kurang-oksigen-saat-naik-gunung</guid>
		<description><![CDATA[
Berada di ketinggian dengan oksigen yang sedikit bisa memicu kondisi hipoksia, yakni ketika tubuh kekurangan pasokan oksigen. Para pendaki gunung harus mengenali tanda-tandanya, serta cara mengatasi jika mengalami kondisi tersebut.
&#8220;Tanda-tanda hipoksia atau kekurangan oksigen antara lain pandangan kabur, pernapasan makin cepat atau tersengal-sengal, serta tubuh menjadi lemas,&#8221; kata Dr Michael Triangto, SpKO dari RS Mitra Kemayoran.
Frekuensi pernapasan yang meningkat terjadi karena tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen. Tidak hanya memaksa paru-paru bekerja lebih keras, kondisi ini juga mempengaruhi jantung yang harus bekerja keras memompa oksigen dalam darah yang hanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><Img src="http://ian.umces.edu/imagelibrary/albums/userpics/12789/normal_ian-symbol-concentration-low-oxygen.png" align="center" alt="Low oxygen"/></p>
<p>Berada di ketinggian dengan oksigen yang sedikit bisa memicu kondisi hipoksia, yakni ketika tubuh kekurangan pasokan oksigen. Para pendaki gunung harus mengenali tanda-tandanya, serta cara mengatasi jika mengalami kondisi tersebut.</p>
<p>&#8220;Tanda-tanda hipoksia atau kekurangan oksigen antara lain pandangan kabur, pernapasan makin cepat atau tersengal-sengal, serta tubuh menjadi lemas,&#8221; kata Dr Michael Triangto, SpKO dari RS Mitra Kemayoran.</p>
<p>Frekuensi pernapasan yang meningkat terjadi karena tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen. Tidak hanya memaksa paru-paru bekerja lebih keras, kondisi ini juga mempengaruhi jantung yang harus bekerja keras memompa oksigen dalam darah yang hanya sedikit itu untuk didistribusikan ke seluruh tubuh.</p>
<p>Selain dari gejala fisik, kondisi hipoksia juga bisa dikenali dari perubahan perilaku. Dalam kondisi hipoksia, otak juga akan kekurangan oksigen sehingga pola pikir seorang pendaki berubah menjadi kacau dan sulit membuat keputusan yang tepat.</p>
<p>&#8220;Dalam keadaan hipoksia, yang dominan hanya emosi dan ini sangat mempengaruhi pengambilan keputusan. Makanya para pendaki sering tersesat, salah satunya karena otak tidak mendapatkan oksigen yang cukup untuk bisa bekerja dengna baik,&#8221; tutur Dr Michael.</p>
<p>Pertolongan pertama ketika menghadapi kondisi ini tentu saja dengan memberikan oksigen. Tabung oksigen berukuran kecil yang bisa dibawa ke mana-mana sangat mudah diperoleh di apotek dengan harga terjangkau, sehingga tidak ada salahnya para pendaki melengkapi diri dengan alat ini.</p>
<p>Jika tabung oksigen belum cukup menolong, maka semua pakaian harus dilonggarkan agar pernapasan menjadi lebih lancar. Kerah baju harus dibuka, ikat pinggang dilepas dan juga bra pada perempuan mau tidak mau harus dilepas supaya saluran napasnya tidak sesak.</p>
<p>Namun yang terpenting dari semua itu adalah, sesegera mungkin pendaki yang mengalami hipoksia harus dibawa ke lokasi yang lebih rendah supaya mendapat oksigen lebih banyak dari udara pernapasan. Makin lama berada dalam kondisi hipoksia, makin besar risiko kerusakan organ karena tidak mendapat suplai oksigen.</p>
<p>Daya tahan seseorang saat berada dalam kondisi hipoksia sangat beragam, salah satunya dipengaruhi oleh kadar sel darah merah serta hemoglobin. Orang-orang yang sehari-hari tinggal di gunung secara alamiah lebih tahan terhadap hipoksia karena sel darah merahnya lebih banyak.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mahesa.or.id/materi-pencinta-alam/mountaineering/tanda-tanda-tubuh-kurang-oksigen-saat-naik-gunung/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bacalah, Karena Alam Adalah Tempat Belajar Yang Baik</title>
		<link>http://www.mahesa.or.id/artikel/opini/bacalah-karena-alam-adalah-tempat-belajar-yang-baik</link>
		<comments>http://www.mahesa.or.id/artikel/opini/bacalah-karena-alam-adalah-tempat-belajar-yang-baik#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 May 2012 04:38:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mahesa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pencinta Alam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mahesa.or.id/?p=1611</guid>
		<description><![CDATA[Alam ini tertera banyak  ayat bahkan segala sesuatunya, dalam alam tersebar banyak utusan bahkan  apapun itu, yang artinya ada berlimpah ruah pelajaran mengenai hakikat,  yang setiap itu melekat pada makhluk ciptaan-Nya. Hanya saja ada  kesadaran yang begitu sulit ditemukan dalam diri ini. Bacalah, karena alam adalah tempat belajar yang baik.
Kadang  saya membayangkan kehidupan sebagai seekor semut hitam. Sosok makhluk  kecil yang didalam banyak ayat menganalogikan sesuatu yang memiliki  kemungkinan paling kecil untuk disadari, bahwa dia (seekor semut hitam)  yang berada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alam ini tertera banyak  ayat bahkan segala sesuatunya, dalam alam tersebar banyak utusan bahkan  apapun itu, yang artinya ada berlimpah ruah pelajaran mengenai hakikat,  yang setiap itu melekat pada makhluk ciptaan-Nya. Hanya saja ada  kesadaran yang begitu sulit ditemukan dalam diri ini. <em>Bacalah, karena alam adalah tempat belajar yang baik</em>.</p>
<p>Kadang  saya membayangkan kehidupan sebagai seekor semut hitam. Sosok makhluk  kecil yang didalam banyak ayat menganalogikan sesuatu yang memiliki  kemungkinan paling kecil untuk disadari, bahwa dia (seekor semut hitam)  yang berada diatas batu hitam kelam dalam pekatnya malam, tak akan lepas  dari kesadaran seorang yang menyadari <em>“Diri”-</em>nya.</p>
<p>Pagi ini saya (semut hitam), kembali melakukan rutinitas sehari-hari; keluar dari sarang setelah sepanjang hari beraktivitas <em>memenuhi banyak kebutuhan akan makan dan banyak lagi keinginan akan libido</em>,  sangat senang berinteraksi dengan kawan-kawan sesama semut hitam,  berjabat-bercengkrama sebarang waktu, kedua antena menggiring ketempat  dimana ada makanan, <em>jika badanku sedikit besar lagi mungkin akan kuangkut juga sepiring makanan</em>, <em>entah senyawa apa yang menarikku berjalan kesana-kemari, modus bekerjaku mangikuti naluri,</em> <em>jika  sekali hajat ku terancam akan kugigit, akan kugigit, dan akan kugigit,  karena seringkali ku terancam oleh pemegang-pemegang kekuasaan, </em>misalnya manusia, tapi mungkin lebih tepat kusebut dengan &#8211; binatang lainnya yang jauh lebih besar<em>- </em>yang katanya makhluk paling tinggi derajatnya, namun seringkali kudapati tidak demikian<em>. <strong>Saya sangat instinktif</strong></em>,  hingga saya kembali lagi kesarang, dan mempersiapkan diri untuk  rutinitas esok hari, yang seperti itu lagi, dan yang tak kusadari.</p>
<p>Entah  apa yang menarik perhatianku padamu sang sosok semut, hingga ketika kau  menggigitku berakhir pula rutinitasmu itu. Gigitanmu menyadarkan pada  waktu yang kurasa begitu cepat berlalu, yang ternyata tak bersandar pada  pagi, siang ataupun malam, atau pada detik-detik jam dinding, yang  kutahu hanya pertanyaan akan kesenangan apa lagi yang ingin dan belum  kulakukan, tuntutan dunia apa lagi yang harus kupenuhi, hingga kau  datang menggigitku.</p>
<p>Ini berarti: pencarian kembali makna  lestari, jika kerusakan lingkungan hanyalah lahan gersang tak subur,  pencemaran lingkungan oleh limbah industri ataukah hanya penebangan  hutan secara ilegal. Terlebih lagi diriku hanya mendaki, mendaki, dan  mendaki puncak  gunung. Karena, dalam diri ada cara pandang dan  kesadaran yang sungguh gersang, dalam diri ada limbah yang mengalir  dalam setiap ucapan tak bertanggungjawab, dalam diri ada tindakan amoral  yang seringkali diwajarkan. Karena yang kudaki hanyalah ego-ego yang  hanya mengantarkanku pada puncak <em>egosentris</em>.</p>
<p>Lihatlah  megah makna lingkungan, jika begitu eksklusif-nya menjadi sang  “pencinta” dan “alam”-lah yang ingin dicinta. Mencari makna hidup dalam  keterasingan diri dalam sokongan daun lontar sementara gambaran jagad  raya ini begitu luas, tak terhingga, tak terjangkau, yang  ungkapan-ungkapan itu hanyalah keterbatasan khayal yang manusia miliki.</p>
<p><em>Bahwa  setiap kita yang terdalam tak memiliki alasan untuk mengingkari  kemungkinan keberadaan semut kecil hitam diatas kelamnya batu hitam  dalam pekatnya malam.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Kesadaran itu ada  dalam alam malam, dan bahwa setiap kita memiliki semut kecil hitam yang  tak kita sadari yang mempertanyakan kehidupannya diatas batu hitam  kelam. Yang menjalankan kehidupannya dalam ketak-sadaran diri, kehitaman  diri diatas batu hitam. Malam menjadi hilang diri karena menyatu  bersama batu yang hitam. Batu menjadi samar karena malam melingkupi dan  menyatu. Apalagi kau, sang semut yang tercipta hitam dilingkupi namun  tak menyadari, menyatu namun mengingkari. Siapa yang menanggung keadaan  itu? Semut yang hitam? Alam yang hitam?</p>
<p>Menyadari  ketakterbayangkannya alam ini (kosmologi), akan sedikit membantu kita  dalam kesahajaan tindakan, ucapan dan pemikiran (cara pandang). Namun,  hal itu bukanlah hanya sebentuk gagasan <em>transcendental</em> yang  berakhir pada rangkaian kalimat logis menggugah hati yang rindu, lantas  mengawang diudara menguap bersama bunyi-bunyi yang melalui rongga, tak  beda dengan kentut busuk. Bahwa menyadari kosmos yang maha luas, berarti  menjadi gelisah akan kosmos diri yang begitu dalam.</p>
<p>Asal Mula (Sekret OLH MAHESA), 24 April 2012</p>
<p><em>Oleh: <a href="../tentang-mahesa/anggota-olh-mahesa/akmal-ihsan-haris" target="_blank">Akmal Ihsan Haris</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mahesa.or.id/artikel/opini/bacalah-karena-alam-adalah-tempat-belajar-yang-baik/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Inilah Kami; Sikap Socrates Terhadap ‘Sophis’</title>
		<link>http://www.mahesa.or.id/artikel/dinamika-pencinta-alam/inilah-kami-sikap-socrates-terhadap-%e2%80%98sophis%e2%80%99</link>
		<comments>http://www.mahesa.or.id/artikel/dinamika-pencinta-alam/inilah-kami-sikap-socrates-terhadap-%e2%80%98sophis%e2%80%99#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 May 2012 04:19:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mahesa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pencinta Alam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mahesa.or.id/?p=1608</guid>
		<description><![CDATA[Socrates
Di dalam sejarah  filsafat dijelaskan bahwa 5 abad sebelum masehi terdapat sekelompok  intelektual yang dalam bahasa Yunani disebut dengan ‘sophis’ yang  bermakna hakim atau ilmuan. Kelompok ini selain memiliki pengetahuan  yang cukup luas terhadap perkembangan ilmu pengetahuan pada zamannya,  mereka juga berkeyakinan bahwa tidak ada sama sekali hakikat dan  pengetahuan yang bersifat tetap. Mereka berpendapat bahwa tidak ada  pengetahuan yang bisa memberikan keyakinan dan makrifat secara pasti.  Kerja mereka adalah mengajarkan metode diskusi dan seni dalam berdebat.  Mereka melahirkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignright" style="width: 103px"><img title="socrates" src="http://dakir.files.wordpress.com/2009/03/socr.jpg?w=500" alt="Socrates" width="93" height="124" /><p class="wp-caption-text">Socrates</p></div>
<p>Di dalam sejarah  filsafat dijelaskan bahwa 5 abad sebelum masehi terdapat sekelompok  intelektual yang dalam bahasa Yunani disebut dengan ‘sophis’ yang  bermakna hakim atau ilmuan. Kelompok ini selain memiliki pengetahuan  yang cukup luas terhadap perkembangan ilmu pengetahuan pada zamannya,  mereka juga berkeyakinan bahwa tidak ada sama sekali hakikat dan  pengetahuan yang bersifat tetap. Mereka berpendapat bahwa tidak ada  pengetahuan yang bisa memberikan keyakinan dan makrifat secara pasti.  Kerja mereka adalah mengajarkan metode diskusi dan seni dalam berdebat.  Mereka melahirkan banyak pengacara untuk membolak-balik fakta yang ada  di sidang pengadilan. Mereka mahir membuat kebatilan menjadi kebenaran  atau kebenaran menjadi kebatilan. Oleh karena pekerjaan mereka adalah  mengajarkan orang-orang bagaimana jatuh dalam kesalahan berpikir,  akhirnya suatu saat perlahan-lahan mereka sendiri jatuh dalam kesalahan  berpikir tersebut sehingga sampai pada suatu tahap mereka berkeyakinan  bahwa tidak ada hakikat atau realitas dibalik pemikiran manusia.</p>
<p>Perjalanan  sejarah kemapalaan tak bisa kita lepaskan dari satu nama, ‘Gie’,  sosoknya begitu anggun dalam fantasi nakal entitas muda Indonesia kala  menggeliat kepanasan diatas ranjang malam pertamanya ketika menjadi  pengantin identitas kemahasiswaan. Kelakarnya tak dapat kita jumpai lagi  dijaman ini. Namun, ‘buah pengetahuan’-nya kini adalah prima yang  menolak jadi penyebab bala. Petantang-petenteng apa yang pernah  didirikannya. Warisan <em>Prajnapramita</em>-nya kini hanya menjadi  berhala, ‘Gie’ menjadi tumbal dari semua itu, namun Ia tak akan  dibebankan dosa atas apa yang tak pernah Ia nazarkan. Karena berhala  Mapala semestinya telah hancur bersama ka’bah yang telah menjadi rumah  ibadah. Mapala adalah rumah ibadah.</p>
<p>Akhirnya kata ‘sophis’  yang bermakna ilmuan tidak lagi dipakai dikarenakan kata itu lebih  dilekatkan pada orang-orang yang terjebak dalam kesalahan berpikir atau  orang-orang yang mengingkari realitas.</p>
<p>Sekarang, sebelum  berakhir zaman ini, jauh setelah zaman ‘Gie’ terdapat pula sekelompok  pemuda yang kita kenal dengan Mapala. Kelompok ini selain memiliki  pengetahuan yang cukup luas terhadap teknik kegiatan alam bebas dan  slogan-slogan pelestarian alam, mereka juga berkeyakinan bahwa  patriotisme akan timbul dengan mendaki puncak-puncak tertinggi di  Indonesia, bahkan dunia. Kerja mereka adalah pengeksplorasian alam  bebas. Handal dalam metode bertahan hidup dialam bebas, tangguh terhadap  tantangan-tantangan alam yang setiap saat mengancam, lincah dan ahli  dalam setiap reduksi pengelompokan objek alam bebas yang kini lebih  nampak seperti berbagai cabang olahraga. Mereka melahirkan banyak  penyembah berhala untuk membolak-balikkan fakta, menjadi alim ulama yang  terjebak dalam diri yang ujub karena takjub dalam pembenaran kegiatan  alam bebas yang termaktub sebagai ibadah. Kini tampak seolah kebatilan  menjadi kebenaran atau kebenaran menjadi kebatilan. Oleh karena sistem  pendidikan mereka adalah mengajarkan orang-orang bagaimana selalu jatuh  dalam hasrat, hasrat menindas dalam ketertindasan, hasrat diri dalam  petualangan ketersesatan diri, hasrat kuasa diatas kejumawaan kaki  puncak trangulasi, namun segala itu tak ada implementasi terhadap apa  yang dimaknai sebagai pecinta, cinta serta alam yang dicinta -alam  ibarat perempuan yang dicintai dengan cara disetubuhi-, akhirnya suatu  saat perlahan-lahan mereka sendiri jatuh dalam kesalahan tersebut  sehingga sampai pada suatu tahap mereka berkeyakinan bahwa tidak ada  sistem pendidikan yang lebih baik dan sesuai dengan karakteristik alam  yang kejam dan tak mengenal ampun ini, alam yang begitu rumit dan keras  ini, alam yang begitu berbahaya dan <em>unpredictable </em>ini<em>, </em>selain  sistem yang telah ada sekarang. Bukankah semestinya nama-nama keindahan  dan ketakjuban kebesaran alam-lah yang juga menghiasi sistem pendidikan  itu, bukan sebaliknya.</p>
<p>Dalam menghadapi skeptisisme ini  Socrates adalah tokoh pertama yang bangkit menentangnya dengan menyerang  pandangan-pandangannya. Socrates menyebut dirinya ‘philosophos’ yang  berasal dari pecinta (<em>phylos</em>) dan hikmah (<em>sophia</em>).</p>
<p>Sejarah filsafat mencatat bahwa alasan Socrates menamakan dirinya ‘philosophos’ dikarenakan dua hal. <em>Pertama, </em>karena beliau rendah hati dan mengakui akan ketidaktahuannya mengenai sesuatu. <em>Kedua, </em>kritikannya  pada kelompok skeptis pada masa itu yang menamakan dirinya kaum  ‘sophis’ dimana kelompok ini muncul hanya untuk kepentingan materi dan  politik.</p>
<p>Inilah kami; sikap atas pertanyaan apakah  ‘organisasi lingkungan hidup’ yang kami sandang hanyalah kedok atau  sebaliknya adalah perjuangan idiologi. Namun, sikap ini bukanlah suatu  bentuk penegasian terhadap yang lain, melainkan menegaskan ‘diri’ bahwa  kami adalah satu bentuk tertentu yang lain.</p>
<p>Dua orang yang  berderma terhadap fakir miskin takkan bisa kita hukumi perbuatan  baiknya, melainkan pribadi masing-masing orang tersebut, yang  menggantungkan perbuatan amalnya pada niat tertentu. Karena kita  tampaknya sama, orang-orang yang memuaskan hasrat akan petualangan alam  bebas dengan mendaki gunung, namun pemaknaan ini membuatnya betul-betul  berbeda. Ada ribuan kemungkinan niat yang secara badihi lalu mewujud  dalam satu tindakan yang sama. Ada amal derma yang berlandaskan  pengakuan orang lain terhadap dirinya atau paling tinggi Ia ada atas  pengharapan akan balasan lipat ganda materi yang telah didermakannya  -persis lipat ganda uang ala babi ngepet- dan ada pula yang menafikan  diri sehingga amal tersebut semata-mata menjadi karunia Tuhan yang  mengalir melalui dirinya. Kedua kemungkinan tersebut sangatlah  subjektif.</p>
<p>Harapan terbesar ada dalam sistem pendidikan  organisasi, layaknya Socrates terhadap Plato, Plato terhadap  Aristoteles, mereka terhadap Al- Farabi, Aristoteles terhadap Avicenna,  Plato terhadap Syaikh Isyraq, hingga ke Shadr Al-Muta’allihin kepada  setiap keyakinan wahdatul wujud.</p>
<p>“Alam adalah tempat belajar yang baik.”<br />
(hasil diskusi di Balao -Balai Galao)<br />
Asal Mula (Sekret OLH MAHESA), 29 April 2012</p>
<p><em>Oleh: <a href="http://www.mahesa.or.id/tentang-mahesa/anggota-olh-mahesa/akmal-ihsan-haris" target="_blank">Akmal Ihsan Haris</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mahesa.or.id/artikel/dinamika-pencinta-alam/inilah-kami-sikap-socrates-terhadap-%e2%80%98sophis%e2%80%99/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memperingati Hari Bumi &#8211; OLH MAHESA Menanam dan Membagikan Bibit Pohon</title>
		<link>http://www.mahesa.or.id/artikel/news/peringatan-hari-bumi-olh-mahesa-menanam-dan-membagikan-bibit-pohon</link>
		<comments>http://www.mahesa.or.id/artikel/news/peringatan-hari-bumi-olh-mahesa-menanam-dan-membagikan-bibit-pohon#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 May 2012 09:09:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mahesa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mahesa.or.id/?p=1598</guid>
		<description><![CDATA[Hari Bumi OLH MAHESA
Pembagian dan Penanaman Bibit Pohon di BTN. Asal Mula
22 April 2012
Pada hari Jumat tanggal 20 April 2012 diadakan rapat untuk membahas ulang tahun OLH Mahesa yang ke 5, dan juga dirapat itu dibahas mengenai pembagian dan penanaman bibit pohon. Bibit pohon didapatkan dari KPA Handaki berjumlah 95 bibit yang terdiri dari  bibit pohon Mahoni dan Cemara. Hasil dalam rapat itu ditunjuklah Agung sebagai koordinator kegitan, dan Ogi yang ditunanjuk  mengurus bagian perlengkapan dan peralatan, kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada hari minggu tepatnya tanggal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align: center;"><strong>Hari Bumi OLH MAHESA</strong></h3>
<p style="text-align: center;"><strong>Pembagian dan Penanaman Bibit Pohon di BTN. Asal Mula</strong><br />
22 April 2012</p>
<p>Pada hari Jumat tanggal 20 April 2012 diadakan rapat untuk membahas ulang tahun OLH Mahesa yang ke 5, dan juga dirapat itu dibahas mengenai pembagian dan penanaman bibit pohon. Bibit pohon didapatkan dari KPA Handaki berjumlah 95 bibit yang terdiri dari  bibit pohon Mahoni dan Cemara. Hasil dalam rapat itu ditunjuklah Agung sebagai koordinator kegitan, dan Ogi yang ditunanjuk  mengurus bagian perlengkapan dan peralatan, kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada hari minggu tepatnya tanggal 22 April 2012 dan dilaksanakan di BTN Asal Mula. Akhir dari rapat tersebut jg telah disepakati kegiatan akan dimulai pukul 08.00.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-1600" href="http://www.mahesa.or.id/artikel/news/peringatan-hari-bumi-olh-mahesa-menanam-dan-membagikan-bibit-pohon/attachment/bibit"><img class="aligncenter size-full wp-image-1600" title="Pembagian dan Penanaman Bibit Pohon di BTN. Asal Mula" src="http://www.mahesa.or.id/wp-content/uploads/bibit.jpg" alt="Hari Bumi" width="540" height="233" /></a></p>
<p>Minggu pagi sudah banyak anggota Mahesa yang sudah berkumpul untuk melaksanakan kegiatan, anggota OLH Mahesa yang hadir saat kegitan dari dewan pendiri yang hadir Kanda Wawan, anggota penuh yang hadir Kanda Agung, Kanda Fatah, Kanda Karmani, Kanda Echa, Kanda Yude, Kanda Farouk, Kanda Ale, dan Kanda Iccang, sementara dari anggota muda yang hadir Kanda Dede, Geri, Frengki, Fauzan, Agung, Ogi, Noni, Yusra, dan Sri, serta hadir juga Kanda Anca dan Kanda Narti.</p>
<p>Sebelum kegiatan diawali dengan survei awal untuk mengetahui letak – letak penanaman yang akan dilakukan, survei  dilakukan oleh geri dan frengki, Sambil menunggu survei selesai, kami berbincang-bincang dan bercanda gurau, sejam berlalu tim yang survei sudah kembali. Sebeum melaksanakan penanaman kami melakukan brefing yang dirangkaikan dengan persentase hasil survei, hasil dari brefing sudah ditentukan titik &#8211; titik penanaman dan pembagian bibit pohon, teknis kegiatan nya kami tidak membagi ke dalam dua tim tapi melakukanya bersamaan, karena kegiatan ini menekankan pada nilai kekompakan dan kebersamaan antar setiap anggota. Kami awali kegiatan dengan berdoa bersama,dilanjutkan serentak meneriakkan MAHESA, sebelum kegiatan juga kami berfoto bersama – sama.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-1599" href="http://www.mahesa.or.id/artikel/news/peringatan-hari-bumi-olh-mahesa-menanam-dan-membagikan-bibit-pohon/attachment/bibit2"><img class="aligncenter size-full wp-image-1599" title="Pembagian dan Penanaman Bibit Pohon di BTN. Asal Mula" src="http://www.mahesa.or.id/wp-content/uploads/bibit2.jpg" alt="Hari Bumi OLH Mahesa" width="535" height="288" /></a>Kami pun memulai kegiatan, pertama – tama kami menanam bibit di pekarangan sekret Mahesa, setelah itu kami menelusuri tiap rumah yang sudah dijadikan titik penanaman kami datangi dan bersosialisasi hari bumi dan pentingnya program pemerintah satu rumah satu pohon, tak lupa kami mengingatkan warga agar tetap merawat tanaman yang kami bagikan dan tanami.<br />
Kegiatan ini sangat diapresiasi baik oleh warga BTN Asal Mula, terbukti dengan antusiasnya warga yang meminta bibit serta ikut dalam menanamnya, ada juga warga yang hanya meminta untuk ditanamkan di pekarangan rumahnya, bantuan juga diberikan warga kepada kami dengan memberikan minuman dan kue.</p>
<p>Menanam bagi kami punya arti yang sangat dalam, ditengah dampak global warming, kebakaran hutan, dan pembalakan liar,saat ini menanam sama halnya memberikan kehidupan bagi masa depan  kelangsungan bumi dan isinya. Salah satu harapan kami sebagai organisasi lingkungan hidup, sekiranya dapat memberikan andil dan manfaat terhadap kehidupan bermasyarakat, menyadarkan pentingnya melestarikan lingkungan dan mengantisipasi dampak yang terjadi terhadap kerusakannya. Dengan begitu organisasi ini sudah memberikan bentuk nyata pengabdian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.</p>
<p>Dalam kegiatan ini kita juga menanamkan nilai-nilai kedisiplinan dalam prosesnya, ada nilai tanggungjawab, ada nila kesadaran yang peka terhadap kelestarian lingkungan sekitar, ada nilai-nilai kesahajaan terhadap alam, dan nilai kebersamaan yang kami bengun selama proses ini berlangsung.</p>
<p>Kegiatan kami ini berlangsung dengan baik dan lancar. Adapun faktor penghambat dalam kegiatan ini seperti perlenkapan dan perlatan menanam yang masih kurang. Faktor pendukung dalam kegitan ini adalah  cuaca yang cerah dan antusiasnya warga yang memberikan kami semangat dalam kegiatan ini.</p>
<p><a rel="attachment wp-att-1603" href="http://www.mahesa.or.id/artikel/news/peringatan-hari-bumi-olh-mahesa-menanam-dan-membagikan-bibit-pohon/attachment/bibit3"><img class="aligncenter size-full wp-image-1603" title="Pembagian dan Penanaman Bibit Pohon di BTN. Asal Mula" src="http://www.mahesa.or.id/wp-content/uploads/bibit3.jpg" alt="Hari Bumi Nasional" width="550" height="647" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mahesa.or.id/artikel/news/peringatan-hari-bumi-olh-mahesa-menanam-dan-membagikan-bibit-pohon/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>When Nature Can Answer</title>
		<link>http://www.mahesa.or.id/artikel/opini/when-nature-can-answer</link>
		<comments>http://www.mahesa.or.id/artikel/opini/when-nature-can-answer#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Apr 2012 06:10:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mahesa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pencinta Alam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mahesa.or.id/?p=1530</guid>
		<description><![CDATA[Bacalah, karena alam adalah tempat belajar yang baik..
Alam ini tertera banyak ayat bahkan segala sesuatunya, dalam alam tersebar banyak utusan bahkan apapun itu, yang artinya ada berlimpah ruah pelajaran mengenai hakikat, yang setiap itu melekat pada makhluk ciptaan-Nya. Hanya saja ada kesadaran yang begitu sulit ditemukan dalam diri ini. Bacalah, karena alam adalah tempat belajar yang baik.
Kadang saya membayangkan kehidupan sebagai seekor semut hitam. Sosok makhluk kecil yang didalam banyak ayat menganalogikan sesuatu yang memiliki kemungkinan paling kecil untuk disadari, bahwa dia (seekor semut hitam) yang berada diatas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bacalah, karena alam adalah tempat belajar yang baik..</strong></p>
<p>Alam ini tertera banyak ayat bahkan segala sesuatunya, dalam alam tersebar banyak utusan bahkan apapun itu, yang artinya ada berlimpah ruah pelajaran mengenai hakikat, yang setiap itu melekat pada makhluk ciptaan-Nya. Hanya saja ada kesadaran yang begitu sulit ditemukan dalam diri ini. <em>Bacalah, karena alam adalah tempat belajar yang baik</em>.</p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-1531" title="Haji" src="http://www.mahesa.or.id/wp-content/uploads/Haji.jpg" alt="When Nature Can Answer" width="290" height="157" />Kadang saya membayangkan kehidupan sebagai seekor semut hitam. Sosok makhluk kecil yang didalam banyak ayat menganalogikan sesuatu yang memiliki kemungkinan paling kecil untuk disadari, bahwa dia (seekor semut hitam) yang berada diatas batu hitam kelam dalam pekatnya malam, tak akan lepas dari kesadaran seorang yang menyadari <em>“Diri”-</em>nya.</p>
<p>Pagi ini saya (semut hitam), kembali melakukan rutinitas sehari-hari; keluar dari sarang setelah sepanjang hari beraktivitas <em>memenuhi banyak kebutuhan akan makan dan banyak lagi keinginan akan libido</em>, sangat senang berinteraksi dengan kawan-kawan sesama semut hitam, berjabat-bercengkrama sebarang waktu, kedua antena menggiring ketempat dimana ada makanan, <em>jika badanku sedikit besar lagi mungkin akan kuangkut juga sepiring makanan</em>, <em>entah senyawa apa yang menarikku berjalan kesana-kemari, modus bekerjaku mangikuti naluri,</em> <em>jika sekali hajat ku terancam akan kugigit, akan kugigit, dan akan kugigit, karena seringkali ku terancam oleh pemegang-pemegang kekuasaan, </em>misalnya manusia, tapi mungkin lebih tepat kusebut dengan &#8211; binatang lainnya yang jauh lebih besar<em>- </em>yang katanya makhluk paling tinggi derajatnya, namun seringkali kudapati tidak demikian<em>. <strong>Saya sangat instinktif</strong></em>, hingga saya kembali lagi kesarang, dan mempersiapkan diri untuk rutinitas esok hari, yang seperti itu lagi, dan yang tak kusadari.</p>
<p>Entah apa yang menarik perhatianku padamu sang sosok semut, hingga ketika kau menggigitku berakhir pula rutinitasmu itu. Gigitanmu menyadarkan pada waktu yang kurasa begitu cepat berlalu, yang ternyata tak bersandar pada pagi, siang ataupun malam, atau pada detik-detik jam dinding, yang kutahu hanya pertanyaan akan kesenangan apa lagi yang ingin dan belum kulakukan, tuntutan dunia apa lagi yang harus kupenuhi, hingga kau datang menggigitku.</p>
<p>Ini berarti: pencarian kembali makna lestari, jika kerusakan lingkungan hanyalah lahan gersang tak subur, pencemaran lingkungan oleh limbah industri ataukah hanya penebangan hutan secara ilegal. Terlebih lagi diriku hanya mendaki, mendaki, dan mendaki puncak  gunung. Karena, dalam diri ada cara pandang dan kesadaran yang sungguh gersang, dalam diri ada limbah yang mengalir dalam setiap ucapan tak bertanggungjawab, dalam diri ada tindakan amoral yang seringkali diwajarkan. Karena yang kudaki hanyalah ego-ego yang hanya mengantarkanku pada puncak <em>egosentrism</em>.</p>
<p>Lihatlah megah makna lingkungan, jika begitu eksklusifnya menjadi sang “pencinta” dan “alam”-lah yang ingin dicinta. Mencari makna hidup dalam keterasingan diri dalam sokongan daun lontar sementara jagad raya ini begitu luas, tak terhingga, tak terjangkau, yang ungkapan-ungkapan itu hanyalah keterbatasan khayal yang manusia miliki.</p>
<p><em>Bahwa setiap kita yang terdalam tak memiliki alasan untuk mengingkari kemungkinan keberadaan semut kecil hitam diatas kelamnya batu hitam dalam pekatnya malam.</em></p>
<p>Kesadaran itu ada dalam alam malam, dan bahwa setiap kita memiliki semut kecil hitam yang tak kita sadari yang mempertanyakan kehidupannya diatas batu hitam kelam. Yang menjalankan kehidupannya dalam ketak-sadaran diri, kehitaman diri diatas batu hitam. Malam menjadi hilang diri karena menyatu bersama batu yang hitam. Batu menjadi samar karena malam melingkupi dan menyatu. Apalagi kau, sang semut yang tercipta hitam dilingkupi namun tak menyadari, menyatu namun mengingkari. Siapa yang menanggung keadaan itu? Semut yang hitam? Alam yang hitam?</p>
<p>Menyadari ketakterbayangkannya alam ini (kosmologi), akan sedikit membantu kita dalam kesahajaan tindakan, ucapan dan pemikiran (cara pandang). Namun, hal itu bukanlah hanya sebentuk gagasan <em>transcendental</em> yang berakhir pada rangkaian kalimat logis menggugah hati yang rindu, lantas mengawang diudara menguap bersama bunyi-bunyi yang melalui rongga, tak beda dengan kentut busuk. Bahwa menyadari kosmos yang maha luas, berarti menjadi gelisah akan kosmos diri yang begitu dalam.</p>
<p style="text-align: right;">Asal Mula (Sekret OLH MAHESA), 24 April 2012</p>
<p><em><strong>Penulis: <a title="Aulia Akbar" href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1358808903" target="_blank">Aulia Akbar</a></strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mahesa.or.id/artikel/opini/when-nature-can-answer/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DIKLATSAR V OLH MAHESA</title>
		<link>http://www.mahesa.or.id/artikel/news/diklatsar-v-olh-mahesa</link>
		<comments>http://www.mahesa.or.id/artikel/news/diklatsar-v-olh-mahesa#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Mar 2012 07:15:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mahesa</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[diklatsar v]]></category>
		<category><![CDATA[kaderisasi]]></category>
		<category><![CDATA[OLH Mahesa]]></category>
		<category><![CDATA[regenerisasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mahesa.or.id/?p=1521</guid>
		<description><![CDATA[
Sebagai sebuah organisasi lingkungan hidup yang terus bertumbuh kembang, tantangan dan perkembangan zaman yang datang silih berganti menuntut OLH MAHESA untuk terus bergerak secara dinamis dan inovatif dalam perjalanannya menuju sebuah organisasi yang terus berkomitmen dalam mengawal terwujudnya kelestarian alam demi peningkatan kualitas hidup anak cucu kita kelak di masa mendatang.
Demi menjaga kelangsungan hidup organisasi ini serta demi terwujudnya cita-cita ini, maka dibukalah pintu regenerasisasi dengan pola kaderisasi yang relevan dengan nilai-nilai luhur pendirian organisasi ini maka kami dari keluarga besar OLH MAHESA Mengundang saudara-saudari; Putra-Putri Terbaik Indonesia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://www.facebook.com/alulmahesadeconan?ref=tn_tnmn" target="_blank"></a><a href="http://www.mahesa.or.id/wp-content/uploads/slayer1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-1525" title="slayer" src="http://www.mahesa.or.id/wp-content/uploads/slayer1-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai sebuah organisasi lingkungan hidup yang terus bertumbuh kembang, tantangan dan perkembangan zaman yang datang silih berganti menuntut <strong>OLH MAHESA </strong>untuk terus bergerak secara dinamis dan inovatif dalam perjalanannya menuju sebuah organisasi yang terus berkomitmen dalam mengawal terwujudnya kelestarian alam demi peningkatan kualitas hidup anak cucu kita kelak di masa mendatang.</p>
<p style="text-align: justify;">Demi menjaga kelangsungan hidup organisasi ini serta demi terwujudnya cita-cita ini, maka dibukalah pintu regenerasisasi dengan pola kaderisasi yang relevan dengan nilai-nilai luhur pendirian organisasi ini maka kami dari keluarga besar <strong>OLH MAHESA </strong>Mengundang saudara-saudari; Putra-Putri Terbaik Indonesia untuk bergabung bersama keluarga Besar <strong>OLH MAHESA</strong> dalam nuansa <strong>DIKLATSAR V OLH MAHESA</strong>&#8230;berbagi pengalaman-pengalaman yang luar biasa, pengetahuan yang mendalam serta pembentukan karakter yang dilaksanakan secara bertanggung jawab menuju terwujudnya kelestarian alam demi peningkatan kualitas hidup anak cucu kita kelak di masa mendatang.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Coming Soon..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mahesa.or.id/artikel/news/diklatsar-v-olh-mahesa/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surga pun takkan cukup</title>
		<link>http://www.mahesa.or.id/artikel/renungan-artikel/surga-pun-takkan-cukup</link>
		<comments>http://www.mahesa.or.id/artikel/renungan-artikel/surga-pun-takkan-cukup#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Mar 2012 14:14:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mahesa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[adam]]></category>
		<category><![CDATA[hawa]]></category>
		<category><![CDATA[manusia]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[pelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[surga]]></category>
		<category><![CDATA[tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mahesa.or.id/?p=1507</guid>
		<description><![CDATA[﻿
Saat kita asik menyaksikan film, kadang kita lupa bahwa semua adegan sudah dirancang oleh sutradara. Apakah kita ingat saat membaca kitab suci, bahwa kisah Adam dan Hawa sudah dirancang oleh Tuhan?
Sebelum Adam diciptakan pun Tuhan sudah tahu bahwa Adam akan dikeluarkan dari surga. Tuhan juga tahu bahwa setan tidak akan sujud kepada Adam. Tuhan Maha Tahu, bukan?
Jika surga berada dalam dimensi keabadian, mengapa Tuhan menceritakan kisah Adam dan Hawa layaknya berada dalam dimensi waktu? Dalam dimensi keabadian, tidak ada dimensi waktu. Kalo masih ada waktu, berarti bukan alam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="../wp-content/uploads/jalan-surga-neraka8.jpg"><img class="aligncenter" title="jalan surga" src="../wp-content/uploads/jalan-surga-neraka8-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a>﻿</p>
<p style="text-align: justify;">Saat kita asik menyaksikan film, kadang kita lupa bahwa semua adegan sudah dirancang oleh sutradara. Apakah kita ingat saat membaca kitab suci, bahwa kisah Adam dan Hawa sudah dirancang oleh Tuhan?</p>
<p>Sebelum Adam diciptakan pun Tuhan sudah tahu bahwa Adam akan dikeluarkan dari surga. Tuhan juga tahu bahwa setan tidak akan sujud kepada Adam. Tuhan Maha Tahu, bukan?</p>
<p>Jika surga berada dalam dimensi keabadian, mengapa Tuhan menceritakan kisah Adam dan Hawa layaknya berada dalam dimensi waktu? Dalam dimensi keabadian, tidak ada dimensi waktu. Kalo masih ada waktu, berarti bukan alam keabadian.</p>
<p>Tuhan menceritakan dalam dimensi waktu adalah agar manusia lebih mudah memahaminya, terlebih manusia sebelum abad 21. Sehingga setiap manusia dapat memetik pelajaran dari kisah tersebut.</p>
<p>Lalu, apa pelajaran yang bisa kita petik dari kisah Adam dan Hawa?</p>
<p>Untuk Adam dan Hawa, segala sesuatu sudah disediakan di surga kecuali satu yaitu buah khuldi. Kenapa Hawa masih meminta Buah Khuldi?</p>
<p>Setidaknya ada dua pelajaran yang bisa kita petik.</p>
<p>Pertama adalah bahwa surga adalah tempat bagi orang yang ikhlas menerima apapun, menerima kenikmatan surgawi juga harus ikhlas.</p>
<p>Kedua, biarpun seisi surga telah diberikan kepada Adam dan Hawa, tapi masih saja meminta lebih. Itulah manusia yang memburu nafsu, surga pun takkan cukup memenuhi nafsunya.</p>
<p>Jika surga saja tak cukup memenuhi nafsu manusia, apalagi cuman planet bumi?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mahesa.or.id/artikel/renungan-artikel/surga-pun-takkan-cukup/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Berbahagia, Wahai Saudara&#8230;</title>
		<link>http://www.mahesa.or.id/artikel/news/selamat-berbahagia-wahai-saudara</link>
		<comments>http://www.mahesa.or.id/artikel/news/selamat-berbahagia-wahai-saudara#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Mar 2012 11:19:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mahesa</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[fitrah]]></category>
		<category><![CDATA[lelaki]]></category>
		<category><![CDATA[muhammad firman]]></category>
		<category><![CDATA[selamat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mahesa.or.id/?p=1513</guid>
		<description><![CDATA[Telah disempurnakanlah Fitrahmu sebagai seorang Manusia, Wahai lelaki&#8230;

Selamat Menempuh Hidup baru buat saudara Muhammad Firman (Anggota DIKLAT I OLH MAHESA),
Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah&#8230; Semoga dianugrahi Momongan yg berbakti bagi agama,nusa, dan bangsa.
Amin!!!
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Telah disempurnakanlah Fitrahmu sebagai seorang Manusia, Wahai lelaki&#8230;</p>
<p><a href="http://www.mahesa.or.id/wp-content/uploads/Muhammad-Firman.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1514" title="Muhammad Firman" src="http://www.mahesa.or.id/wp-content/uploads/Muhammad-Firman-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Selamat Menempuh Hidup baru buat saudara <a href="http://www.facebook.com/#!/profile.php?id=1775428085" target="_blank">Muhammad Firman</a> (Anggota DIKLAT I OLH MAHESA),</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah&#8230; Semoga dianugrahi Momongan yg berbakti bagi agama,nusa, dan bangsa.</p>
<p style="text-align: justify;">Amin!!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mahesa.or.id/artikel/news/selamat-berbahagia-wahai-saudara/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SAVE THE RAINFOREST FOR INDONESIA</title>
		<link>http://www.mahesa.or.id/artikel/news/save-the-rainforest-for-indonesia</link>
		<comments>http://www.mahesa.or.id/artikel/news/save-the-rainforest-for-indonesia#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 12:13:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alul</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[barbie]]></category>
		<category><![CDATA[deforestasi]]></category>
		<category><![CDATA[disney]]></category>
		<category><![CDATA[El Segundo]]></category>
		<category><![CDATA[forest]]></category>
		<category><![CDATA[greenpeace]]></category>
		<category><![CDATA[hutan]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[konvensi]]></category>
		<category><![CDATA[mattel]]></category>
		<category><![CDATA[moratorium]]></category>
		<category><![CDATA[sumatera]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mahesa.or.id/?p=1510</guid>
		<description><![CDATA[Ya.. berita itu benar, Ken telah mencampakkan Barbie. Dia kecewa karena menemukan fakta bahwa Barbie terlibat dalam penghancuran hutan Indonesia dan mendorong keberadaan spesies langka, seperti Harimau Sumatera, ke ambang kepunahan.
Ken yang patah hati memutuskan untuk melakukan tindakan dramatis agar Barbie tahu bagaimana persaaannya. Dengan bantuan beberapa Aktivis Greenpeace, spanduk besar digantungkan dari puncak gedung markas Mattel yang bertuliskan “ Barbie, Kita Putus, Aku tidak mengencani gadis yang terlibat Deforestasi.
Hutan hujan Indonesia memang sangat jauh lokasinya dari kantor perusahaan pembuat mainan Mattel, di El Segundo, Los Angeles. Tapi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.mahesa.or.id/wp-content/uploads/Save-the-Forest-2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1511" title="Save the Forest" src="http://www.mahesa.or.id/wp-content/uploads/Save-the-Forest-2-291x300.jpg" alt="" width="226" height="233" /></a>Ya.. berita itu benar, Ken telah mencampakkan Barbie. Dia kecewa karena menemukan fakta bahwa Barbie terlibat dalam penghancuran hutan Indonesia dan mendorong keberadaan spesies langka, seperti Harimau Sumatera, ke ambang kepunahan.</p>
<p>Ken yang patah hati memutuskan untuk melakukan tindakan dramatis agar Barbie tahu bagaimana persaaannya. Dengan bantuan beberapa Aktivis Greenpeace, spanduk besar digantungkan dari puncak gedung markas Mattel yang bertuliskan “ Barbie, Kita Putus, Aku tidak mengencani gadis yang terlibat <strong>Deforestasi</strong>.</p>
<p>Hutan hujan Indonesia memang sangat jauh lokasinya dari kantor perusahaan pembuat mainan Mattel, di El Segundo, Los Angeles. Tapi, hasil riset forensik Greenpeace terhadap kemasan kertas yang digunakan Barbie, mainan paling terkenal di dunia, ditemukan serat kayu yang berasal dari hutan hujan Indonesia. Kami juga melakukan penyelidikan menyeluruh di Indonesia, memetakan data dan melacak sertifikat perusahaan untuk menunjukkan bahwa Mattel, pembuat boneka Barbie, dan perusahaan mainan lainnya seperti Disney, menggunakan kemasan yang diproduksi oleh Asia Pulp and Paper, perusahaan penghancur hutan Indonesia.</p>
<p>APP terus menjadi berita buruk bagi hutan alam Indonesia, yang memperlakukannya tidak lebih dari aset yang dapat dibuang, merenggut hutan alam yang penting bagi masyarakat sekitar hutan. Mattel, dan perusahaan mainan lainnya seperti Disney, memiliki tanggung jawab untuk mendukung pembangunan yang bersih, rendah karbon, dan untuk memastikan produk mereka tidak mengakibatkan kehancuran pada lingkungan. Mereka bisa melakukan ini dengan segera meninggalkan APP dan sebaliknya mendukung produsen dari Indonesia yang lebih bertanggung jawab</p>
<p>Indonesia memiliki laju kerusakan hutan tercepat di dunia; menurut pemerintah sendiri, lebih dari satu juta hektar hutan alam dibabat habis tiap tahunnya. Meskipun pemerintah baru baru ini telah mengumumkan moratorium konversi hutan, bukti menunjukkan langkah ini tidak melindungi 45 juta hektar hutan di Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mahesa.or.id/artikel/news/save-the-rainforest-for-indonesia/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Iklan Go Green Yang Kreatif</title>
		<link>http://www.mahesa.or.id/artikel/iklan-go-green-yang-kreatif</link>
		<comments>http://www.mahesa.or.id/artikel/iklan-go-green-yang-kreatif#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2012 00:50:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alul</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[celcius]]></category>
		<category><![CDATA[go green]]></category>
		<category><![CDATA[iklan]]></category>
		<category><![CDATA[korea]]></category>
		<category><![CDATA[kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[tagline]]></category>
		<category><![CDATA[wwf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mahesa.or.id/?p=1491</guid>
		<description><![CDATA[1. WWF Lungs Before It’s Too Late

WWF Lungs Before It’s Too Late
Penebangan hutan sedang menjadi menjadi perhatian saat ini. Banyak pohon ditebang setiap tahun untuk membuka lahan, yang digunakan untuk bangunan dan jalan . Untuk membuat orang menyadari pentingnya hutan, WWF Prancis datang dengan sebuah iklan yang masuk akal, yang memaksa orang untuk berpikir tentang pentingnya hutan. iklan paru-paru ini diproduksi oleh TBWA / Paris dan menyerukan tagline, “Sebelum terlambat.”
2. Global Warming Ad : Pool
Global Warming Ad: Pool
Suhu rata-rata bumi telah meningkat hampir 0,8 derajat Celcius, sehingga menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>1. WWF Lungs Before It’s Too Late</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<div id="attachment_1492" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://www.mahesa.or.id/wp-content/uploads/iklan1.jpg"><img class="size-medium wp-image-1492" title="WWF Lungs Before It’s Too Late" src="http://www.mahesa.or.id/wp-content/uploads/iklan1-300x170.jpg" alt="" width="300" height="170" /></a><p class="wp-caption-text">WWF Lungs Before It’s Too Late</p></div>
<p>Penebangan hutan sedang menjadi menjadi perhatian saat ini. Banyak pohon ditebang setiap tahun untuk membuka lahan, yang digunakan untuk bangunan dan jalan . Untuk membuat orang menyadari pentingnya hutan, WWF Prancis datang dengan sebuah iklan yang masuk akal, yang memaksa orang untuk berpikir tentang pentingnya hutan. iklan paru-paru ini diproduksi oleh TBWA / Paris dan menyerukan tagline, “Sebelum terlambat.”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2. Global Warming Ad : Pool</strong></p>
<div id="attachment_1493" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://www.mahesa.or.id/wp-content/uploads/iklan2.jpg"><img class="size-medium wp-image-1493" title="Global Warming Ad: Pool" src="http://www.mahesa.or.id/wp-content/uploads/iklan2-300x188.jpg" alt="" width="300" height="188" /></a><p class="wp-caption-text">Global Warming Ad: Pool</p></div>
<p>Suhu rata-rata bumi telah meningkat hampir 0,8 derajat Celcius, sehingga menjadi perhatian utama. Pemanasan global menyebar  ke seluruh penjuru dunia, dan berdampak pada naiknya ketinggian air di permukaan bumi. Air yang naik akan menutupi dataran rendah bahkan bisa membuatnya terendam. dalam Iklan Pemanasan Global ditunjukkan seseorang berada di dalam kolam. Iklan ini menggambarkan dunia telah terendam karena naiknya ketinggian air. tagline dari iklan tersebut adalah, ‘Jangan biarkan ini menjadi masa depan kita. Jaga hutan hujan kita, hentikan pemanasan global .</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3. Green Korea Hand</strong></p>
<div id="attachment_1494" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://www.mahesa.or.id/wp-content/uploads/iklan3.jpg"><img class="size-medium wp-image-1494" title="Green Korea Hand" src="http://www.mahesa.or.id/wp-content/uploads/iklan3-300x216.jpg" alt="" width="300" height="216" /></a><p class="wp-caption-text">Green Korea Hand</p></div>
<p>Green Korea Serikat telah menciptakan sebuah iklan yang berjudul indikasi yang jelas tentang pemanasan global di tahun-tahun mendatang. Dalam iklan ditunjukkan ‘Tangan’ yang semakin terendam dalam air. Iklan ini memiliki slogan yang sangat menarik yaitu, ‘kita akan tenggelam jika tidak selamatkan bumi dari pemanasan global. ” Iklan Ini dirilis pada tahun 2008 dan dibuat oleh agen periklanan Daehong.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>4. Global Warming Ad</strong></p>
<div id="attachment_1495" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://www.mahesa.or.id/wp-content/uploads/iklan4.jpg"><img class="size-medium wp-image-1495" title="Global Warming Ad" src="http://www.mahesa.or.id/wp-content/uploads/iklan4-300x202.jpg" alt="" width="300" height="202" /></a><p class="wp-caption-text">Global Warming Ad</p></div>
<p>Iklan ini sangat menarik perhatian dan membangkitkan semangat orang untuk datang dan menandatangani petisi. Permohonan ini memaksa Pemerintah Belgia lebih peduli lagi terhadap isu-isu terkait pemanasan global. Iklan ini dibuat oleh TBWA (Badan Iklan Brussels, Belgia) dan memiliki tag line yang berbunyi, Ini adalah beruang kutub yang membuka kulitnya karena tidak tahan hawa bumi yang semakin panas.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>5. Diesel Global Warming Ready</strong></p>
<div id="attachment_1496" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://www.mahesa.or.id/wp-content/uploads/iklan5.jpg"><img class="size-medium wp-image-1496" title="Diesel Global Warming Ready" src="http://www.mahesa.or.id/wp-content/uploads/iklan5-300x240.jpg" alt="" width="300" height="240" /></a><p class="wp-caption-text">Diesel Global Warming Ready</p></div>
<p>Bisakah anda mengerti arti dari kampanye Go-green di atas?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mahesa.or.id/artikel/iklan-go-green-yang-kreatif/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

