Sinopsis Buku: Strategi Hideyoshi; Another Story of The Swordless Samurai

strategi-hideyoshiKemerdekaan itu adalah syarat bagi sebuah perbuatan etik, mungkin sekilas saja kalimat ini tidak menarik; namun, disatu sisi syarat merupakan hal yang membatasi, dan di sisi lain kebebasan adalah suatu bentuk keinginan jiwa yang menolak adanya batasan. Menariknya, perbuatan etik berada diantara kedua hal tersebut.

“Kemiskinan adalah rahmat. Manusia yang tidak terdesak seringkali membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukan tujuan hidupnya. Meskipun masih kecil, aku telah menemukan salah satu cara menuju keberuntunganku, “Terbayangkan Berarti Terjangkau”: Hideyoshi, tokoh samurai legendaris, pemimpin besar dari Jepang. Buku ini membuka lebih dalam mengenai ketokohannya dari sudut yang lebih dalam pada prinsip-prinsip samurai yang dikenal dengan bushido, bagaimana ia memaknai dirinya dan memberi inspirasi pada kebudayaan Jepang secara luas, hingga sekarang.

Buku ini berisikan kisah-kisah bijak salah seorang pemimpin Jepang  yang terkenal dengan prinsip Samurai mereka yang mereka pegang teguh. Ia adalah seorang anak petani, yang bahkan sempat dikeluarkan dari kuil karena kenakalannya. Selain kisah dirinya, terdapat juga kisah-kisah kesatriaan, kehormatan diri, pengendalian diri, dan kebijakan dari Jepang yang disajikan melalui tokoh-tokoh yang diciptakan secara fiksi.

Secara luas yang menarik adalah prinsip bushido, kaidah prinsip moral yang harus ditaati samurai, kaidah ini tidak tertulis dan bukan ciptaan seseorang akan tetapi berkembang secara alamiah secara berabad-abad dalam sejarah militer Jepang. Tidak ada saluran aktivitas manusia atau jalan pemikiran yang tidak dipengaruhi atau diilhami bushido. Kode tersebut senantiasa menjadi roh Jepang, karena tidak tertulis, Bushido hanya terekspresi melalui perbuatan. Hukum tidak tertulis dimanapun juga kecuali dijantung hati.

Bushido adalah bukti yang menunjukkan bahwa pembentukan budaya bukan merupakan hal yang dibentuk secara hokum structural maupun institusional, apalagi hal tersebut bukanlah dibentuk oleh seseorang, budaya merupakan tuntutan pemikiran masyarakat, budaya merupakan tuntutan etis masyarakat. Bahwa, pemikiran yang terus terasah, kehidupan yang terus terefleksikan pada tindakan etis (amal), pada akhirnya akan menuntut tindakan-tindakan etis lainnya yang terkristalkan dalam petuah-petuah. Didikan orangtua secara turun-temurun sebagai sebuah nilai kehormatan, kehormatan seorang Samurai, manusia yang memiliki kedudukan popularitas dan kehormatan dimasyarakat Jepang karena karakter kemuliaan diri dan berpegang pada prinsipnya, bukan karena kekuatan dan kedudukan.

Setelah membaca buku ini, beberapa sifat dalam diri mampu tercerminkan, terkadang kita bergerak tanpa ‘Kebenaran’ hingga tindakan kita adalah hal yang paling menjijikan, hal yang paling disesali. ‘Keberanian’ untuk mati tanpa kebenaran hanyalah –kematian anjing. Bahwa ‘Kemuliaan’ berdasarkan keadilan diri berujung pada kesopanan’ dan kepedulian social. Seorang samurai tidak akan pernah mengangkat derajat uang setara dengan kebajikan, bagi mereka manusia harus membenci uang karena kekayaan menutupi kebajikan, namun bukan untuk alasan ekonomis, melainkan kelebih bentuk penahanan nafsu.

Janganlah mencela siapapun namun waspadalah pada kekurangan dirimu sendiri, takut akan kehinaan dirinya bukan terletak pada anggapan orang lain –pada dirinya, namun pada ‘Kehormatan’, pada kesadaran yang tinggi akan harga diri dan kelayakan pribadinya. Takut akan kehinaan menggelantung seperti pedang diatas kepala setiap samurai. Bagi samurai pengampunan bukanlah hal yang diberikan dari hati secara membabibuta, namun berdasarkan atas asas keadilan, bahwa pengampunan itu layak diberikan bagi orang yang betul-betul memahami kesalahannya. Untuk mengampuni dirinya sendiri dan untuk membawa pesan tertentu, seorang samurai, berdasarkan prinsip kebenaran, keberanian, kemuliaan, ketulusan dan kehormatan diri melakukan praktik Seppuku atau Hara-kiri (bunuh diri). Namun, dapat kita ambil positifnya, bahwa ‘bunuh diri’ dapat juga berarti membunuh diri yang telah lalu, menebus segala kesalahan yang telah lalu secara sungguh-sungguh dan membuktikannya lewat tindakan untuk merebut kembali harga dirinya yang telah dibuangnya.

Ada juga sebuah kisah Kesetiaan’ yang begitu menggetirkan dari sebuah budaya yang kuat, Bushido, yang rela mengorbankan anaknya untuk kesetiaannya pada keyakinannya. Tujuan utama pendidikan samurai tidak lain adalah membangun ‘Karakter dan Pengendalian Diri’, apabila seorang guru berusaha menajamkan karakterbukannya kecerdasan, jiwa bukannya otak, maka pekerjaannya mengandung unsur-unsur suci, dan hubungan dengan guru menjadi begitu tinggi, mereka biasanya adalah orang-orang yang hidup miskin namun terhormat. Pengendalian diri adalah syarat untuk menjadi seorang samurai, yang tidak boleh dikotori oleh nafsu apapun.

Terus merefleksikan setiap interaksi dengan orang-orang disekitar adalah sebuah kehidupan; kebenarandan kesalahan, kebajikan dan keburukan, kebijakan dan kesia-siaan, kemudian kembali pada dirianda, temukan bukti kebenaran itu, kebajikan dan kebijakan itu pada perbuatanan dadalam kesadaran reflektif tersebut. Namun seringkali segalanya tidak cukup dengan refleksi, kita pada tuntutan lebih tinggi mesti menerapkan sebuah teori menghadapi kehidupan, tidak hanya refleksi setelah kehidupan.

Tindakan ekologis bermula sejak dalam kesadaran, bukan hanya terhadap alam, namun juga manusia yang merupakan manifest alam itu sendiri. Dalam prinsip ekologis, baik alam maupun manusia pasti menerapkan efeknya atas tindakan kita, hal itu adalah suatu bukti bahwa tindakan kita memiliki realitas objektif yang dituju, sekecil apapun itu. Permasalahan lingkungan adalah permasalahan etika, idiologi tertentu akan mengantar pada etika tertentu. Hidup adalah usaha menemukan realitas objektif dialam ini, yang realitas objektif tersebut adalah alasan atas sejumlah perintah moral berupa keharusan dan ketidak-bolehan yang kemudian menuntun pada petualangan hidup yang tidak membosankan dan tak ingin lagi kita mengaharapkan sebuah ujung pencarian melainkan bahagia dalam pencarian sejati itu sendiri.

034/MAHESA/III/AP/2010

Komentar Anda?