Perempuan; Pencinta Alam

perempuan pendakiDalam dunia kepencintaalaman, perempuan mengambil peran dalam mewujudkan cita-cita pelestarian alam. Melihat kecenderungan saat ini kita tentu bangga terhadap banyaknya kaum hawa yang bergelut dengan alam petualangan, ketangguhan dan penjelajahan alam. Telah banyak atlit perempuan yang mampu bersaing dengan laki-laki dan bahkan dalam hal perawakan mereka, bahwa perempuan-perempuan tangguh menunjukkan eksistensinya. Mereka kini tidak ingin diremehkan kemampuannya. Dalam keseharian gaya hidup pun banyak perempuan Pencinta Alam (PA) yang menyerap maskulinitas khas laki-laki pendaki gunung.

Itu di satu sisi, bahwa fenomena sebaliknya juga banyak yang terjadi, laki-laki banyak juga menyerap feminitas, namun kita cukup ingin melihat peran feminitas sebagai sifat dan modus dalam pergerakan …

Secara potensialitas perempuan (jenis kelamin) lah yang memiliki lebih besar fitrah feminitas, sebabnya kita tidak ingin perempuan-perempuan kehilangan karakter perasaan penuh perhatiannya, kelemah-lembutan dan kesabarannya. Gender atau sifat-sifat maskulinitas dan feminitas dapat bernilai dominan ataupun minor pada kedua jenis kelamin, lelaki dan perempuan.

Sosok perempuan benar mempunyai peran penting dalam kehidupan dan kemanusiaan, bahwa di belakang seorang manusia agung, manusia sempurna, pemimpin-pemimpin yang tangguh pasti ada perempuan hebat, bahwa Ia pasti lahir dari rahim, dididik dan didampingi oleh perempuan yang dengan feminitasnya telah melahirkan budaya, peradaban dan keseimbangan. Tuhan melalui perempuan mencipta, alam itulah perempuan. Alam melalui arena  pengalaman, bagi manusia, merupakan ladang hikmah.

Perempuan tidak butuh pengakuan, Ia akan mengambil peran dimana Ia berada, sebagai anak yang baik bagi orangtuanya, maka Ia adalah Ibu yang sabar mendidik anaknya. Cita-cita keluarga bahagia tentu didahului dengan menjadi anak yang baik, walau pada kasus tertentu ada juga orangtua yang mengekang, mendikte dan mendominasi anaknya, sebaliknya juga ada anak yang menjadi siksa bagi orangtuanya. Lebih jauh kita dapat membayangkan hal tersebut juga berlaku dalam organisasi. Pertanyaannya adalah menjadi baik itu bagaimana?

Pada setiap individu, kita memiliki maskulinitas dan feminitas dengan dua dimensinya, positif dan negatif. Maskulinitas positif adalah keberkuasaan diri (akal) diatas kecenderungan. Kita seringkali menganggap kebebasan dalam bertindak namun terkungkung dalam kecenderungan alamiah itu yang menghalangi apa yang seseorang itu sendiri merasa pantas untuk dituju dan dikejar.

Maskulinitas positiff adalah seorang yang paling banyak bekerja dan menghasilkan namun hanya mengambil sedikit dan merahmati lebih banyak. Maskulinitas sekarang adalah mengeksplorasi segala kekayaan, meraup keuntungan dengan kekuasaan lalu memberi dampak buruk tindakannya itu kesemua. Bagi manusia, maskulinitas adalah segala keagungan sifat-sifat yang hanya pantas disandang Tuhan, kemahakuasaan kehendak, olehnya itu manusia adalah feminitas murni dalam hubungannya dengan Tuhan, ketundukan, kehambaan, ketaatan, ibadah, dsb. Olehnya itu, ketundukan kita pada orang lain adalah ketundukan (akal) karena kebenaran yang dibawahnya, bukan karena lainnya.

Sedang feminitas negatif adalah penerimaan atas kecenderungan diri, ketakberdayaan atas nafsu, emosi, atas kebodohan atas ketakpahaman terhadap sesuatu dan kepasrahan semacam itu. Adalah jika terlalu jatuh dalam sensitifitas perasaan itu sendiri merupakan feminitas negatif, jatuh dalam ketakmandirian diri. Feminitas positif adalah ketundukan pada kebenaran, ketaatan dan kesabaran memperjuangkan kebenaran itu, menghamba pada kebenaran. Kebenaran sebagai suatu realitas objektif yang mengandung keharusan moral, keharusan untuk memperlakukan sesuatu dengan baik. Dunia kita kini mungkin telah terlalu maskulin, pengingkaran dan keberpalingan terhadap nilai. Makanya laki-laki dianggap lemah saat taat, menjadi terkesan letoy ketika bersabar dan mengendalikan amarah. Sebaliknya, kemalasan, mengumbar emosi dan kemarahan, bebas dsb, adalah karakter maskulinitas. Perempuan mungkin saja melalui iklim yang maskulin ini banyak yang kehilangan fitrahnya tersebut.

Perempuan adalah ladangnya laki-laki, pemberi kerja terhadap laki-laki. Kemarahannya adalah musibah bagi alam, laki-laki tidak akan memiliki kerja. Maka, ketika laki-laki (maskulinitas) telah benar-benar merasa berkuasa atas perempuan (feminitas) maka berhati-hatilah dengan bencana, perempuanlah yang memegang kekuasaan. Keadaan akan berubah sebaliknya. Kalimat ini metafora, individu terhadap sifat; feminitas dan maskulinitas yang dikandung dalam dirinyanya, hubungan laki-laki dan perempuan didalam alam, ataupun sebagai hubungan hamba dan Tuhannya.

Kita perlu membuka feminitas-feminitas dalam hidup kita, sekiranya maskulinitas adalah argumentasi rasional, saya kira telah kita lampaui kemustiannya, feminitas adalah kunci yang membuka hati atas keharusan tindakan moral yang telah terungkap secara rasional. Bahwa, kita misalkan secara sederhana, pencintaalam secara teoritis sudah mesti mengemban tugas melestarikan lingkungan sekitarnya, dan tak ada perdebatan lagi di dalamnya, hanya saja ketika bergerak ke tindakan, kita menemui hambatan maskulinitas kita. Bahwa hati mampu menafikan hal yang rasional tersebut, hati yang maskulin. Ini adalah problem antara teoritis dan praktis, segala nilai-nilai ideal untuk turun dalam tindakan, namun dengan kesabaran sang ibu (alam) yang terus menuntun pembelajaran bagi kita, tantangan bagi kita anak-anaknya dalam berkhidmat hingga melahirkan feminitas kita. Kita mungkin sudah perlu membuka sedikit hati untuk feminitas, namun tak menjadi begitu letoy meninggalkan maskulinitas (akal). Sekiranya, sebelum sayang (feminitas) ibu berbalik menjadi murka (maskulinitas).

 

034/MAHESA/III/AP/2010

Komentar Anda?