Orang Makassar ki’?

siri

Agak risau seketika waktu mencoba menulis tentang Makassar, latah mencari-cari kesadaran akan kota kita ini. Ibarat wajah, kota Makassar adalah yang mengenalkanku pada dunia yang diyakininya, dunia yang kini lamat-lamat dipandanginya. Setiap hari saya ikut memandangi melaluinya tapi baru kali ini kusadari belumlah Ia kukenali yang padanya aku memandang, senyumnya tersungging kecewa.

Jika Jepang dengan wajahnyaadalah bushido; ksatria samurai yang menunjukkan kebenaran dan keadilan yang dijunjungnya, serta pedang; kehormatan yang menggantung dileher tiap samurai, siap menggorok tuannya setiap saat kehormatan digadaikan, itulah seppuku atau harakiri. Maka Makassar, jika demikian disebut wajah, berarti adalah siri’ na pacce kehormatan dan kebersamaan, simpati, empati dan satu rasa masyarakat yang bijak, badik dan toddopuli- bertanggungjawab atas setiap perkataan atau perbuatan atau juga junjungan-junjungan seelok; sipakatau, sipakainge, sipakalebbi dan sebagainya.

Akan tetapi baik Jepang maupun Makassar nampaknya tak mampu menahan hasrat dunia atas kemolekan yang ditawarkan padanya, akhirnya dipoles sedemikian rupa dengan makeup yang tebal, menor, mencolok, menyalak dan satu rupa,menjadi gadis cantik pujaan bernama globalisasi.

Globalisasi merupakan istilah untuk merangkum perubahan-perubahan yang terlalu cepat untuk disadari karena kita telah begitu sibuk dalam ruang-ruang baru pada setiap orang dari politikus hingga orang biasa dari berbagai bidang, teknologi baru, ekonomi baru, praktik politik baru, struktur sosial baru hingga kebudayaan baru.

Inilah wajah-wajah yang dikenalkan padaku, wajah pemerintah Makassar, hanyalah para hidung-hidung belang yang sama, terangsang pada gadis molek. Perasaan ambigu; lucu sekaligus miris.

Peran pemerintah sungguh merupakan lokus, karena segala praktik pemerintahan yang kita dilingkupi didalamnya, kebijakan dan peraturan-peraturan, disegala aspek, hukum, ekonomi, sosial politik, lingkungan, dan sebagainya sungguh sangat mempengaruhi budaya kita, wajah ibu Makassar. Kearifan lokal dalam budaya kuno tentu menyimpan suatu praktek-praktek kehidupan yang memegang prinsip-prinsip keseimbangan antara alam dan manusia. Namun peran pemerintah yang diharapkan sebagai bapak malah selingkuh dengan gadis molek globalisasi, membawanya pulang kerumah dan mengakrabkan dengan anak-anaknya lalu menelantarkan ibu Makassar.

Globalisasi membuat dunia ini bagaikan jadi satu pasar global dengan mentalitas menghasilkan uang hanya demi menghasilkan uang semata. Pemerintahan, rumah sakit ,universitas ataupun yayasan sekolah tinggi, lembaga hukum, media massa, apatah lagiperusahaan-perusahaan yang memang berbasis bisnis.

Jaringan informasi dalam media massa begitu luas, kita dijejali teknologi dan informasi yang sangat banyak, berubah-ubah dengan cepat, kita tak tahu mana yang harus diperhatikan terlebih dahulu, sudah terlalu besar untuk ditelan. Kebenaran dibentuk berulang-ulang dalam media massa, masyarakat yang bingung menelan mentah-mentah apa yang ada dihadapannya, budaya global dibentuk, seragam. Sebagai individu kita memiliki kemandirian dalam menentukan hal apa yang pantas menjadi perhatian kita dan menentukan sikap yang bijak atasnya.

Pernah suatu ketika terjebak macet, dan juga terjebak dalam luapan emosi orang-orang disana yang padahal kita sama-sama terjebak macet, ini sekedar kecurigaan; “pantas saja mungkin di Jakarta banyak kasus pembunuhan keji dengan memutilasi korbannya, yah sesungguhnya mereka muak dan membunuh-memutilasi kesemrawutan kotanya, kesadarannya”. Orang-orang semakin individualis, minus kepekaan sosial. Sulit juga meregulasi hal tersebut karena bapak pengusaha adalah sekaligus bapak penguasa, mana mau isi kantong berkurang? Sumberdaya bergerak dari alam dan masyarakat menuju hanya kepada orang-orang tertentu, pemilik modal.Namun kerusakannyalah yang dibagikan kembali pada alam dan masyarakat.

Seperti sebuah puisi cinta-tak-berbalas, katanya, pola essai yang secara etimologi berarti mencoba, selalu berada pada kondisi mengeluh atau mengutuki keadaan tetapi masih dirahmatkan harapan. Ibu budaya kita akan selalu ada, bahkan dia adalah ibu semua budaya, hanya satu, kebaikan dan kebenaran hanya berasal dari satu rahim. Alam dan banyak orang disekitar kita boleh saja terjebak dalam pusaran budaya global, namun kita tidak serta merta begitu saja menerima keadaan tersebut dan bahkan terdeterminasi dalam pola budaya tersebut. Ia akan selalu menyamarkan diri dalam hasrat-hasrat manusiawi kita. Tetapi bahwa produk dan teknologi bukan merupakan  hal yang ditolak diatasnya bahkan kemajuannya harus dikejar, namun lebih pada kemandirian diri, menyelamatkan nilai-nilai keseimbangan dalam kehidupan, menampilkan anti nilai yang resesif terhadapnya, membangun komunikasi yang berulang-ulang dalam kelompok kecil, membentuk perspektif, yang dengan itu juga perlahan membentuk suatu budaya tandingan.

Saya yakin saat ini belum menjadi orang yang berbudaya Makassar, wajah Makassar yang tampil dihadapanku selama duapuluh tiga tahun terakhir ini jauh dari ibu makassar. Budaya memiliki bukti budaya berupa etika dan moral yang diterapkan masyarakatnya, namun tampaknya kini hanya tinggal teks-teks dan metafora yang tak kunjung dijemput pemaknaannya – siri’ manako? Pacce manako?, tinggallah kini hanya artefak budaya, kalaupun ada yang tertinggal dan dikenal lekat oleh orang diluar Makassar mungkin hanyalah pemaknaan yang salah. Kita dikenal sebagai orang yang kasar yang dikenal seringkali rusuh dan tawuran. Padahal makna siri’yang mungkin jauh dari hal tersebut adalah kehormatan yang lahir dari keadilan dan kebenaran, sebuah sikap tegas. Orang Makassar’ki?

Saya menyadari ungkapan-ungkapan tadi menasbihkan perempuan, hal itu karena tingginya makna perempuan sebagai rahim peradaban, budaya lahir dari dirinya Ia adalah benteng kokoh pendidikan anak-anaknya, darinya lahir anak dengan karakter Makassar. Perempuan dalam hal ini sebenarnya merupakan segi feminitas positif sebagai sifat dan nilai luhur, bisa kita sebut juga sebagai kearifan lokal, yang semakin hari semakin molek.

 

034/MAHESA/III/AP/2010

Komentar Anda?