Ketika Mental dan Fisik Sudah Terkuras, Masih Ada Harga Diri Yang Akan Memandumu Pulang…


Sebuah Laporan Perjalanan Kegiatan MAHESA Bersih Gunung Bawakaraeng 2010

Kali ini, 12 Maret 2010, Makassar Menjelang Senja..

Dalam Catatan Kali ini, saya rasa akan lebih afdhol apabila saya memulainya dengan kulangkahkan kakiku keluar dari kamarku(Sebuah Kerajaan Malamku) setelah packing dan melakukan persiapan-persiapan lainnya…Setelah pamitan dan mencium tangan Ibunda saya pun melanjutkan perjalanan menuju ke MABES MAHESA di BTN ASAL MULA, kali ini saya menumpang Sepeda motor bermerek Yamaha Jupiter Z dan Arnan (001/MAHESA/AI/2007) sebagai Jokinya.

Masih Senja di MABES MAHESA, ternyata sudah banyak kawan-kawan yang berkumpul disana dan Nampak sedang melakukan persiapan-persiapan menjelang keberangkatan. Ada yang melakukan packing, mendata equipment yg dibawa serta, mendata Ransum, membagi bobot beban ke dalam tas Carrier peserta, dan persiapan-persiapan lainnya. Nampaknya masih lama akan berangkat, sambil menikmati sebotol coca-cola dingin bersama Akil berbincang-bincang about Love di beranda, Asikkkkkkk Sekaliiii……….

Dan akhirnya malam hari pun tiba diawali dengan Adzan Magrib Yang membahana. Packing pun telah selesai dilaksanakan, persiapan pun telah mencapai taraf 90%. Ada beberapa teman yang keluar untuk mencari sisa perlengkapan yang belum rampung untuk segera dilengkapi. Nampak pula beberapa teman menuju ke DIMITRI untuk menyewa Equipment Yang akan dibawa dalam perjalanan nanti, dan beberapa teman yang masih bersantai di MABES MAHESA.

21.09 WITA, Rombongan MAHESA BERSIH GUNUNG BAWAKARAENG berangkat meninggalkan MABES MAHESA menuju Desa Lembanna Kab.Gowa. Rombongan Terbagi atas 2, rombongan yang pertama menggunakan sepeda motor sementara rombongan kedua menggunakan Sebuah Mobil Panther punya Mheeno (014/MAHESA/I/AP/2008) yang kerap digunakan sebagai kendaraan Dinas MAHESA. Makasih,bro..^^

Tanggal 13 Maret 2010, pukul 00.58 WITA Rombongan 1 dan 2 Tiba di Desa Lembanna Kab.Gowa dan menggunakan Rumah Tata’ Rappe sebagai Home Base perjalanan kali ini. Tidak beberapa lama kemudian, dari kejauhan terdengar raungan Sepeda Motor Bermerek Tiger kepunyaan Ryan (004/MAHESA/PENDIRI/2007). Ternyata Ryan juga ikut serta dalam perjalanan ini.

04.00 WITA, Tim I yang merupakan Tim Leader beranggotakan Karmani (010/MAHESA/I/AP/2008), Ikha (021/MAHESA/I/AP/2008), dan Iccank (001/MAHESA/III/AM/2010) beranjak meninggalkan Home Base menuju ke Puncak Bawakaraeng. Selang 30 Menit kemudian (waktu yang kami sepakati untuk melakukan contact via HT) kami melakukan contact dan Tim I melaporkan bahwa mereka telah tiba di Pos Berdoa.

05.00 WITA, Tim II yang merupakan Tim Inti beranggotakan Agung (016/MAHESA/I/AP/2008), Yude’ (020/MAHESA/I/AP/2008), Awi (013/MAHESA/I/AP/2008), Faruk (029/MAHESA/II/AP/2009), Muphe’(002/MAHESA/III/AM/2010), Miko (005/ MAHESA/III/AM/2010), dan saya Sendiri; Alul (003/MAHESA/PENDIRI/2007) juga beranjak meninggalkan home base menuju puncak bawakaraeng menyusul Tim I. dan menurut kesepakatan Tim III yang merupakan Tim Sweeper yang beranggotakan Tomo (002/MAHESA/PENDIRI/2007), Ryan (004/MAHESA/PENDIRI/2007), Barak (011/MAHESA/I/AP/2008), dan Mheeno (014/MAHESA/I/AP/2008) akan menyusul tim I dan Tim II sejam kemudian.

Perjalanan menuju puncak bawakaraeng dalam rangka kegiatan MAHESA BERSIH GUNUNG BAWAKARAENG merupakan perjalanan yang berat dan sangat meletihkan. Baru saja tiba di Pos I sudah menguras energi yang sangat banyak. Medan di perjalanan menuju Pos I sangatlah menantang, perjalanan yang sedikit mendaki dengan bebatuan dan tanah merah dengan sedikit rintangan dari semak belukar di tiap sisi dan berjalan memotong aliran sungai kecil. Tiba di pos I, beristirahat sejenak dan mengumpulkan sampah.
Melanjutkan perjalanan, medan perjalanan yang panjang dan berkelok menyusuri medan semak belukar yang tinggi yang terkadang menganggu pandangan dan menggores badan kami. Lumayan jauh juga akhirnya kami tiba di Pos II yang dtandai dengan sebuah Pohon yang rindang, sekedar mengumpulkan sampah dan memasukkannya ke dalam kantong polybag.Kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan semak belukar masih di sisi kiri dan kanan kami, beberapa batang pohon yang memaksa kami untuk melompati,merunduk, bahkan tiarap di bawah untuk melewatinya..(Katanya inilah konsep hidup yang sebenarnya). Akhirnya kami tiba di Pos III, beberapa meter sebelumnya kami sempat singgah di sungai sebelum Pos III untuk sekedar mengambil air, mengumpulkan sampah, dan berpose foto tentunya. Pada kesempatan ini, kami menyempatkan diri untuk mempersilahkan saudara Muphe’ dan Faruk untuk mengambil jatah SET karena lupa akan Penggunaan kata ‘Kanda’ pada saat menyapa Kakak-kakak DIKLATnya…Inilah Seninya Organisasi, Bukanlah Hukuman Cuma sekedar pengingat yang menyenangkan demi mendidik tata krama dalam organisasi..”Yang Tua Sadar Diri, Yang Muda Tahu Diri.”

15 menit kemudian kami pun melanjutkan perjalanan. Menuju pos IV medan perjalanan yang kami tempuh adalah kawasan hutan basah. Pos IV bawakaraeng ditandai dengan sebuah potong besar melintang yang terbelah di tengahnya. Di Pos inipun kami menyempatkan diri untuk mengumpulkan sampah dan memasukkannya kedalam kantong Polybag. Matahari pun tidak lagi menyembunyikan sinarnya, bahkan dengan tidak sungkan-sungkan menyorotkan cahayanya yang terik kepada kami. Dan akhirnya dibawah sorot terik matahari, kami pun tiba di Pos V. di pos ini kami bertemu dengan Tim I yang sedang beristirahat. Di pos inilah kami sepakat untuk berkumpul. Selang 30 menit kemudian, akhirnya Tim III tiba di pos ini. Kami pun berkumpul untuk mengumpulkan sampah, mengambil air dan makan siang bersama. Kali ini Karmani yang bertindak selaku kepala Koki, Mantap!!

Dari Pos V menuju Pos VI kami melintasi bukit-bukit kecil yang di penuhi dengan batangan-batangan pohon yang melintangi jalanan diselingi dengan ladang edelweiss yang tumbuh dengan liar disana. Panorama yang indah untuk berpose memaksa kami untuk kembali mengambil gaya. Di pertengahan pos inilah tim I dan Tim II sepakat untuk meleburkan personil dengan alasan untuk lebih mempermudah perjalanan. Akhirnya, Rombongan MAHESA BERSIH GUNUNG BAWAKARAENG terbagi menjadi 2 Tim. Karmani pun tinggal untuk memberikan HT kepada Tim Sweeper.

Di Pos VI kami kembali mengumpulkan sampah lalu kembali meneruskan perjalanan menuju pos VII. Medan ini ditandai dengan pendakian-pendakian relative pendek. Pendakian yang menguras energi ditambah dengan sorot matahari yang terik ditambah lagi dengan gangguan dari serangga-serangga kecil yang mengikuti dan terus terang sangat mengganggu kami. Pos VII ditandai dengan beberapa bongkahan batu besar. Sebuah bukit yang indah dengan beberapa bongkahan batu besar memaksa kami untuk kembali mengambil gaya berpose ria ala foto profil Facebook. Pada pos ini kami mendapati sebuah tong drum sampah dan menemukan beberapa receh uang koin dan beberapa batang rokok yang terselip dibawah batu; saya yakin, orang-orang tersebut dengan sengaja untuk menyimpannya disana entah untuk maksud apa.

Dari Pos VII kami melanjutkan perjalanan menuruni bukit pos VII lalu berjalan memasuki jalan setapak yang ditumbuhi pepohonan pendek yang indah, kemudian memasuki hutan hujan yang lembab khas Bawakaraeng. Masih ditemani oleh serangga-serangga kecil kami pun harus menapaki pendakian khas bawakaraeng. Jalur yang lembab dan kabut tipis pun turun memaksa kami untuk mengancing dengan rapat Raincoat kami. Jalur pos inilah yang merupakan ciri khas pendakian Bawakaraeng, jalur yang menguras tenaga dan mencucurkan keringat. Pendakian yang panjang dan sangat membosankan, kemudian penurunan yang terjal untuk kembali mendaki. Terkadang melewati semak berduri dan bebatuan yang berlumut memaksa kami untuk memutar otak meletakkan kaki berpijak dengan hati-hati. Sungguh kombinasi antara tenaga dan akal. Pada salah satu penurunan, pada saat daya konsentrasi yang mulai menurun, ditambah dengan sesaknya dada akibat kabut tipis dan udara yang lembab, ditambah lagi dengan gangguan-gangguan dari serangga-serangga kecil; akhirnya saya yang salah menempatkan pijakan terjatuh dengan posisi tangan kanan yang hampir patah akibat mengapit dahan sementara tulang kering kaki kiri yang membentur sudut batu. SAKIT!! namun, kondisi yang sangat kelelahan dan udara yang dingin seolah memberikan sugesti untuk tidak memperhatikan luka tersebut. Dalam hati saya bernazar untuk menggunting celana saya apabila saya dapat berhasil tiba di Camp.Pos tanpa terhalangi oleh rasa sakit ini.

Pukul 15.58 WITA, kami tiba di Pos VIII. Karmani sebagai Korlap dalam perjalanan ini, Setelah melihat kondisi anggota rombongan yang kelelahan dan waktu yang sudah mendekati gelap, dengan pertimbangan dan keputusan yang tepat menghasilkan kebijakan untuk Camp di pos ini. Kami pun membongkar carrier untuk mengambil equipment-equipment, mendirikan tenda, dan mengambil air untuk keperluan selama camp di pos ini. Kami pun melakukan pengamatan suhu dengan alat bantu thermometer, suhu mencapai 6°c. Selang beberapa menit kemudian Tim Sweeper pun tiba di camp.

Menjelang magrib, makan malam pun telah siap dengan Tomo yang bertindak sebagai kepala Koki. Kami pun santap malam dengan dinginnya malam sabagai pelengkap hidangan ini. Beruntung kami menemukan tanah yang sedikit lapang untuk mendirikan 3 tenda dengan posisi yang saling berdekatan dan 1 tenda dengan posisi yang agak jauh. Cuaca yang sangat dingin yang mencapai hingga 2°c pada malam harinya dan kondisi badan yang kelelahan memaksa saya untuk segera menutup mata. Dan tentu saja sebelum menutup mata, saya harus menepati nazar saya yakni saya harus memotong celana saya menjadi celana pendek apabila saya dapat berhasil tiba di Camp.Pos tanpa terhalangi oleh rasa sakit pada betis akibat benturan kemarin.

Keesokan harinya, 14 Maret 2010, agak subuh kawan-kawan nampaknya sudah terbangun tapi saya masih agak berat untuk membuka mata. Dingin sekali, kawan..suhu mencapai angka 4°c!!! akhirnya pukul 06.30 WITA setelah mengumpulkan sampah dan bersiap-siap, rombongan pun kembali melanjutkan perjalanan menuju puncak Gunung Bawakaraeng. Kali ini Faruk, Yude’, dan Ikha bertugas untuk stay di camp dan tentu saja mempersiapkan Makan siang dan membersihkan lokasi di sekitaran camp sementara rombongan yang lain menuju ke puncak.

Tepat pukul 07.56 WITA, setelah melalui Pos IX, rombongan tiba di Pos X. Dari sana Puncak Gunung Bawakaraeng sudah terlihat dengan jelas.rombongan akhirnya tiba puncak dengan kondisi yang kelelahan pada pukul 08.00 WITA. Namun letih dan lelah terbayar lunas oleh keindahahan puncak Gunung Bawakaraeng. Apalagi dengan cuaca yang sangat cerah tanpa kabut sama sekali. Momen ini tidak disia-siakan, kami pun mengambil gaya untuk berfoto bersama tugu trangulasi Bawakaraeng. Tidak cukup dengan hanya mengambil foto, kami pun mengabadikan momen ini dengan mengambil beberapa video menggunakan HP.

Setelah mencari dan mengumpulkan sampah-sampah yang berserakan di sekitaran Puncak dan Pos X, kami pun memutuskan untuk kembali ke camp tepat pada pukul 09.10 WITA. Di sepanjang perjalanan turun dari puncak menuju camp, kami menemukan banyak sampah yang bertebaran. Kami pun memungutnya untuk kemudian dibawa turun. Pukul 11.30 WITA, rombongan tiba di camp pos VIII. Kami pun makan siang bersama hasil racikan koki ala resto buatan Faruk, Ikha, dan Yude’…setelah santap siang dan beristirahat sejenak, kami pun packing untuk kembali ke desa Lembanna. Setelah membagi Sampah kedalam Kantong Polybag dan Berdoa Bersama, Rombongan MAHESA BERSIH GUNUNG BAWAKARAENG meninggalkan Camp.Pos VIII menuju Desa Lembanna tepat pada pukul 12.31 WITA.

Perjalanan balik dari Pos VIII menuju VII adalah seni pendakian khas perjalanan Bawakaraeng. Kondisi medan yang sangat menantang dengan segala rintangan disepanjang jalan menguras energi dan sangat menganggu mental kami. Pada sesi ini pulalah Luka Benturan pada tulang kering betis kaki kiri yang membengkak sangat tidak bisa diajak berkompromi. Nyeri dan sakitnya sangat menganggu membuat langkahku terganggu sehingga sebentar-sebentar saya harus berhenti untuk sekedar memberi perhatian lebih kepada Betis ini.

Perjalanan Pulang dari Pos VIII menuju Pos VII adalah perjalanan yang memakan waktu yang sangat lama, hal ini disebabkan medan pendakian yang sangat curam; Sayangnya kami tidak membawa altimeter untuk mengukur sudut dan kemiringannya. Dan akhirnya, pada kondisi ini rombongan menjadi terpecah-pecah. Tiba di Pos VII, Saya bersama Faruk dan Miko memutuskan untuk sejenak beristirahat sambil membakar sebatang rokok sambil sedikit obrolan dibawah sorotan terik matahari dan hembusan angin. Setelah sebatang rokok telah habis, kami pun kembali melanjutkan perjalanan menuju desa lembanna. Kondisi betis yang semakin membengkak membuatku kembali harus memberikan perhatian ekstra kepadanya, saya harus berhenti lagi di Pos VI.

Dari Pos VI menuju Pos V memang relative lebih mudah, tapi dengan kondisi cuaca yang terik, fisik yang kelelahan, dan bahkan mental yang sudah mulai goyah, perjalanan menuju pos V terasa sangat melelahkan, membosankan, bahkan memaksa kami untuk berhenti dan terdiam tanpa bincangan. Seekor Elang Gunung pada pertengahan Pos VI dengan Pos V memberikan sedikit bahan sebagai bincangan namun itu pun juga tidak banyak membantu kami untuk menumbuhkan minat untuk kembali melanjutkan perbincangan. Kelelahan yang luar biasa ditambah dengan keyakinan yang sudah mulai luntur merupakan suatu hal yang paling menakutkan dalam suatu perjalanan. Pada kondisi ini, kita bisa mendapatkan kesempatan bisa menemui potret diri sendiri yang sedang berada dalam kondisi yang teramat susah dan potret diri sendiri itulah yang kita biasa sebut dengan istilah SAHABAT!!! Silahkan gali maknanya.

Mendekati Pos V, akibat kelelahan dan rasa sakit yang menyiksa betisku memaksaku untuk sejenak duduk dan menundukkan kepala dan tanpa sadar saya tertidur. Beruntung Karmani yang telah lebih dahulu tiba di Pos V kembali dan membantuku membawakan Bawaanku. Dengan langkah yang gontai saya pun kembali meneruskan perjalanan ke Pos V dan Pukul 14.02 WITA setibanya disana tidak dapat kutahan kantukku untuk segera terlelap. Di Pos V ternyata sudah terlebih dahulu ada Ryan, Karmani, Faruk, dan Miko. Saat itu langit sudah berubah menjadi mendung dan tertutup oleh kabut yang tebal. Cuaca pun menjadi dingin.

Cukup lama juga saya tertidur disana. Miko telah kembali melanjutkan perjalanan, yang berada di Pos V juga telah bertambah. Kali ini selain Karmani dan Ryan juga ada Tomo, Barak, Ikha, dan Faruk. Hujan Yang mengguyur Pos V telah membangunkanku dengan Paksa. Berlindung di bawah Semak bersama kawan-kawan membuat suasana yang dingin menjadi hangat. Apalagi dengan sajian Susu Hangat dan rokok. Hujan Akhirnya reda, namun baru saja kami bersiap-siap untuk berangkat, Hujan yang lebih deras kembali memaksa kami untuk bertahan disana hingga akhirnya Pukul 17. 15 WITA, setelah hujan akhirnya mulai reda, kami pun kembali meneruskan perjalanan. Target tiba sebelum Magrib kayaknya menjadi sebuah hal yang mustahil mengingat jarak yang masih jauh.

Secara tak sengaja rombongan kembali terpisah menjadi 2 tim. Saya, Tomo, dan Ryan berada dalam Tim yang di depan, sedangkan Karmani, Barak, Ikha, dan Faruk pada Tim yang di belakang. Sementara anggota rombongan yang lain sudah terlebih dahulu sudah berada di depan kami. Berkejaran dengan waktu, kami lebih memacu langkah kami. Nafas yang tersengal, badan yang menggigil, kondisi kaki yang sakit membuat kami nampak terlihat memprihatinkan. Tetapi kami tetap melanjutkan perjalanan.

Pos IV pun kami lalui, saat itu sudah menjelang Gelap dan hujan belum juga berhenti…kami lebih memacu langkah kami. Pos III, kami sejenak berhenti untuk sejenak menunggu tim yang di belakang. namun 5 menit berlalu mereka tak kunjung tiba, akhirnya kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Melewati sungai kemudian sedikit mendaki merupakan penanda dari pos III menuju Pos II pun telah kami lalui. Melewati semak belukar dan jalan yang berliku. Berbatu dan terkadang harus melewati batang pohon tumbang yang melintang. Dan akhirnya kami tiba di Pos II, tak lama kemudian tim yang di belakang pun kembali bergabung bersama kami.

Malam pun telah tiba, gelap dan hujan disertai angin yang lembut membuat mental semakin goyah. Saya kemudian mengeluarkan senter dari dalam tas. Dari Pos II menuju Pos I, hari sudah betul-betul berganti menjadi malam. Kali ini, hujan turun rintik-rintik…namun masih menyisakan angin yang membuat badan yang basah menjadi semakin menggigil. Dalam kondisi yang seperti inilah kami Sadar Ketika Mental dan Fisik Sudah Terkuras, Masih Ada Harga Diri Yang Akan Memandumu Pulang…

Setibanya di Pos I, akhirnya Saya dan Ryan memutuskan untuk berjalan lebih dahulu disebabkkan badan yang dingin akan semakin menggigil dan bahkan bisa terserang Hypotermhia. Dari Pos I menuju desa Lembanna sangatlah menegangkan, kondisi medan yang becek dan berlumpur membuat kami semakin berhati-hati dalam melangkah. Berlari-lari kecil dapat membuat badan menjadi hangat namun hal itu berarti Saya dan Ryan tidak berhati-hati dalam melangkahkan pijakan. Pos Berdoa pun telah kami lalui dan itu berarti Desa Lembanna sudah sangat dekat. Keluar dari Pos Berdoa kami harus melalui Kebun-kebun milik warga desa Lembanna. Jalanan yang becek semakin mempersulit langkah kami, malam yang mendung tanpa bintang membuat kami sulit untuk menemukan arah. Kami pun sempat bingung untuk keluar dari kebun ini. Setelah menemukan petunjuk, yakni lampu rumah penduduk dari kejauhan, kami pun kembali meneruskan perjalanan. Akhirnya, kami tiba di aspal desa Lembanna. Dari sini sudah sangat dekat untuk mencapai Home Base Kami di rumah Tata’ Rappe. Dengan langkah yang gontai, badan yang menggigil, serta fisik yang sudah sangat lelah akhirnya Saya dan Ryan tiba di Home Base tepat pada pukul 19.32 WITA. Disana kami disambut oleh kawan-kawan yang telah tiba lebih dahulu disana. Dan tepat pukul 20.03 WITA, akhirnya Tomo, Karmani, Barak, Faruk, dan Ikha pun juga telah tiba di Home Base.

Kondisi rombongan yang sangat memprihatinkan segera terganti menjadi suasana yang ceria setelah selesai menuntaskan tugas kami dalam kegiatan MAHESA BERSIH GUNUNG BAWAKARAENG. Dalam kegiatan ini kami berhasil mengumpulkan sampah-sampah dari gunung Bawakaraeng sebanyak 6 Kantong Polybag. Walaupun tidak maksimal, tetapi setidaknya hal itu bisa saja lebih berarti daripada tidak sama sekali. Setidaknya kami berusaha membuka mata bagi kalian para Pendaki atau kalian yang menamakan diri kalian sebagai Pencinta Alam bahwa akan lebih baik apabila mendaki bukan hanya untuk menambah sampah tetapi justru malah untuk menguranginya. Bukankah akan lebih baik jikalau Gunung itu tanpa sampah??

Setelah bersiap-siap, berganti pakaian dan melakukan packing ulang, pukul 21.13 WITA setelah berpamitan kepada sang pemilik Home Base; Tata’ Rappe, kami pun kembali Ke Makassar dengan Sebuah Mobil dan 4 buah Sepeda Motor. Rombongan menikmati makan malam di sebuah rumah makan di Malino, dan akhirnya kembali melanjutkan perjalanan. Namun, pada perjalanan ke Makassar, pada salah satu ruas jalan Gowa. Akibat rasa kantuk dan kondisi badan yang kelelahan sehingga Tomo yang bertindak selaku supir kehilangan konsentrasi berkendara sehingga Mobil yang kami tumpangi hampir saja menabrak Dinding sekolah dasar. Ban Mobil yang tercebur dalam got yang membuat mobil kesulitan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Beragam cara telah digunakan untuk mengangkat mobil ini namun selalu saja gagal. Beruntung tak ada korban dalam kecelakaan ini. Tomo, Mheeno, Agung, Barak, Ikha, Yude’, dan Saya masih diberikan kesempatan untuk hidup menjadi lebih baik. Nampaklah Faruk dan Karmani kembali dan membantu kami.

Setelah beberapa saat, Mobil akhirnya berhasil diangkat keluar dengan bantuan dari beberapa warga sekitarnya. Mobil pun kembali melaju Dan akhirnya Rombongan Tiba di MABES MAHESA pada pukul 00.46 WITA, 15 Maret 2010. Perjalanan kali ini adalah perjalanan yang sangat mengesankan dan tidak akan mudah untuk dilupakan. Dan betul sekali: Ketika Mental dan Fisik Sudah Terkuras, Masih Ada Harga Diri Yang Akan Memandumu Pulang…Alhamdulillah.

 

Alul Sarjana Ekonomi, 003/MAHESA/PENDIRI/2007

Komentar Anda?