Haji Bawakaraeng: Napak Tilas

Gunung Bawakaraeng

Yang terpenting bagi suatu masyarakat adalah kedaulatannya, tidak lain itu yang kita sebut kemerdekaan. Kemerdekaan sikapnya menilai sesuatu, hingga tak ada lagi tiran yang mampu memanipulasinya dan merampas hak-haknya. Namun, kemerdekaan itu kosong.Menurut Bapak pembicara dihari sumpah pemuda, lirik “Indonesia raya, merdeka-merdeka” dalam lagu nasional sudah tidak cocok, diganti saja menjadi “Indonesia raya, mulia-mulia”. Untuk apa merdeka yang seperti ini, mau diapakan kemerdekaan jika puluhan juta warga yang merdeka hidup sengsara, pejabat-pejabat yang katanya merdeka menjadi budak nafsu dan kekuasaan, kita sama-sama tetap terjajah. Tidak, bukan itu, kita belum sampai pada makna merdeka yang hakiki dalam negeri kita.

Benar bahwa kemerdekaan itu syarat untuk bertindak.Kita mestinya senang melihat banyak masyarakat yang golput, memilih untuk tidak memilih, ataukah mungkin sebaliknya kita mesti takut karena harapan atas kemerdekaan itu sendiri telah hilang.

Mendengar Haji Bawakaraeng, tentu ada banyak tanggapan dari orang-orang:  Ada yang mengomentari akan primitifnya masyarakat, bahwa itu adalah dampak dari minimnya pendidikan. Ada juga yang pesimis akan informan yang tidak dapat menjelaskan kemurnian haji bawakareng. Ada yang berkomentar “sesat!”. Ada yang menertawai, hanya tertawa, tidak jelas, mungkin benar-benar lucu bagi dia. Tapi apakah kita tidak begitu terburu-buru menilai?

Tulisan ini merupakan ringkasan laporan perjalan yang dilakukan khusus untuk melihat lebih dekat sebuah ritus budaya yang masih terus dilakukan warga sekitar kaki gunung Bawakaraeng di tiap hari raya Idul Adha, laporan kami ini berdasarkan hasil perjalanan hari raya Ied Adha di tanggal 15 Oktober 2013. Kami memilih jalur Dusun Tassoso, Sinjai Barat.

Sehari sebelum hari raya Idul Adha, didusun Tassoso, diujung aspal, pagi-pagi sekali sudah ada dua rombongan besar;rombongan pertama ada sekitar sebelasan dan rombongan kedua ada sekitar duapuluhan orang, sementara tim kami berencana memulai perjalanan pada siang harinya. Ketika kami camp dan beristirahat di pos 8 yang dikenal dengan nama Lembah Cina, sekitar pukul 02.30 tengah malam, tempat itu disesaki 34 orang yang datang melalui jalur Tassoso dan tidur diluar seadanya dengan selimut-selimut rumah. Mereka ada yang datang dari Makassar, ada yang datang dari Bulukumba. Kemudian kami bertemu sekitar sepuluh orang dari maros, saat kami tiba di pos 10 (puncak). Belum lagi pendaki lainnya, ada sekitar lima kelompok pendaki. Ketika pulang , sehari setelah hari Ied, didusun Tassoso ada lagi dua rombongan, masing-masing sekitar 20 orang susul-menyusul pagi-pagi sekali. Bahkan, setelah berada di Makassar, satu minggu setelah kepulangan, kami dapat info dari teman yang mendaki dan merayakan hari sumpah pemuda dipuncak Bawakaraeng, bahwa masih ada warga yang datang berziarah.

Bukankah ini sebuah gerakan yang massif? Sekiranya pantaslah bagi kami untuk mencoba menapaki jejak motif dan sejarah yang melatari gerakan masyarakat ini yang kami temui ketika melakukan tindakan budaya dan tidak terburu-buru menilai.

Dilembah Cina, ketika kami camp, bersama dengan 33 orang rombongannya, kami menemui sosok Pak Rahmat, Ia dipanggil guru oleh beberapa pemuda saat itu-tinggal di hertasning baru (Makassar)-disana ada pengajian yang Ia pimpin setiap malam jumat. Ia banyak bercerita mengenai prinsipnya beragama. Katanya, “Jika kita bertemu, dan sebenarnya saya adalah preman namun kau tak tahu itu, apakah kau akan takut pada saya?” Seperti itu Ia analogikan hubungan seseorang yang tak mengenal Tuhannya. Ia menampik ibadah-ibadah yang tak didasari oleh makrifat. Ia banyak bercerita, sekitar 30 menitan lebih: mengenai anjuran mengikuti orang-orang tua terdahulu, mengenai dzikir yang lebih dulu ada daripada solat, mengenai ritual asap-kemenyan yang baginya bukan praktek menyimpang karena merupakan warisan nenek, mengenai ulama-ulama yang menjual agama, terakhir ketika hendak menutup cerita dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak, Ia meminta maaf jika ada perkataannya yang tak berkenan. Namun, kami tak sempat solat Ied bersama karena ketika sore hari sebelum hari Ied, rombongan mereka pulang setelah kehujanan dan tak memiliki lagi baju kering, padahal menurutnya mereka akan melakukan dzikir dimalam Ied.

Dihari Ied Adha, sekitar pukul setengah enam pagi kami payah-payahan ke trangulasi. “Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, Lailaha Illallahu Allahuakbar, Allahuakbar Walillahilham”, terdengar seorang bapak, yang belakangan kuketahui bernama Jufri, sedang duduk sendiri dan takbir disamping kiri trangulasi ketika kita menghadap ke barat.

Ia dari Bulukumba, bertiga dengan Puang Beba seorang kakek renta, yang kemudian menjadi imam disalat Ied. Seorang lagi bernama Puang Tuo, pengoleksi foto-foto raja-raja disulawesi dan wali songo serta juga beberapa kaliwang (badik)- senjata tradisional bugis-makassar. Pak Jufri sendiri adalah khatib pada hari itu.

Kami berkumpul dalam tenda rombongan warga dari Gowa, karena rombongan Bulukumba ini tak membawa tenda (padahal cuaca hujan pada hari itu), rombongan dari gowa memberi mereka tumpangan.Sambil menunggu hujan reda, mereka bercerita, kami kebanyakan menyimak dan merekam.Tiba-tiba seorang datang dari luar hujan, meminta izin untuk sekedar berteduh. Namanya Saparuddin, bapak empatpuluh tahunan atau lebih, dari Bulukumba. Kemarin Ia mendaki seorang diri dan melepas alas kaki di Pos 1 sampai saat masuk tenda, ia berjalan bertelanjang kaki, seperti bayi katanya, karena bayi banyak dilindungi malaikat, Ia mengaku hanya menempuh waktu 4 jaman sampai kepuncak,sedangkan waktu normal bisa mencapai 8 jam.

Banyak kepercayaan yang kuperoleh dari interaksi itu.Mereka menyebutkan menempuh 13 puncak-puncak hingga berakhir di trangulasi. Bahwa secara gaib dipuncak terdapat sebuah mesjid, ada juga makam wali. Ada satu tempat yang dikatakan sebagai jembatansiratal mustaqim jalur yang katanya mirip titian (tim kami tak sempat kesana), yang disamping kiri-kanannya adalah jurang. Seorang dari rombongan itu bernama Ruslim, bekerja di koran tribun timur Makassar, mengaku pasrah atas ajal yang akan menjemput ketika melewati jembatan tersebut.

Ada daun tertentu yang mereka percayai berkhasiat, memiliki kontur keriput, sebagai daun dari pohon khuldi dalam sejarah nabi adam, mereka menyelipkan daun itu di Alquran dan ketika kering dibawa sebagai jimat, kudapati mereka menaruhnya didompet dilapisi kertas.Mereka mempercayai khasiatnya tergantung niat. Dari Pak Saparuddin keterangan itu kudapatkan, ditambahkannya lagi, bahwa nama dan kejadian telah tertera dalam kontur daun tersebut, dan ketika daun itu gugur orang-yang namanya tertera (secara kasat mata) akan ikut mati. Pak Saparuddin percaya bahwa, Bawakaraeng merupakan sejenis kota yang maju, dengan aspal dan mobil-mobil, hanya saja kita tak melihatnya. Darinya kami memperoleh video sinrilik seorang perempuan yang sepertinya kerasukan yang melaluinya sosok yang diyakini sebagai tetuah bercerita mengenai petuah-petuah dan sejarah perjalanan Bawakaraeng tersebut, Pak Saparuddin memanggilnya nenek.

Sejauh itu tak ada warga yang mengaku sebagai Haji Bawakaraeng.Hanya banyak pelajaran mengenai hakikat perjalanan pendakian sebagai sebuah sarana melatih diri dan pengenalan diri yang bermanfaat. Banyak pamali-pamali dari mereka.

Satu kesan juga yang melekat, pada Puang Beba, Ia menunjukkan raut muka yang seperti tak mengeluh atau juga bukan ekspresi gentar terhadap dingin, katanya Ia setiap tahun naik lebaran Ied Adha dipuncak Bawakaraeng. Satu statementyang saya ingat tentang semua itu, bahwa, tak percaya boleh, namun jangan sombong.

Dalam kegiatan tersebut itu tim kami dipandu oleh Mapala Perguruan Tinggi Muhammadiyah untuk jalur pendakian. Mereka ternyata telah konsisten mengawal mayarakat dengan gerakannya menolak pertambangan di Bonto Katute (GERTAK-Gerakan Rakyat Tolak Tambang Bonto Katute) di Sinjai Barat, salah satu kaki gunung dari Bawakaraeng. Perusahaan,yang menurut informasi dari mereka merupakan milik dari salah satu politisi dan calon presiden dari partai kuning, pelan-pelan merambah sampai telah selesai pada tahap eksplorasi (penelitian). Potensi tambang adalah biji besi. Ketika terjadi sampai tahap eksploitasi, tambang akan merusak tiga sungai yang berhulu di daerah tersebut, yang kemudian akan merusak sebagian besar pertanian warga, begitu keterangan mereka. Warga yang juga notabene adalah mereka yang secara rutin berziarah ke Bawakaraeng.

Bagi kami, pertemuan budaya dengan realitas sosial mesti dilakukan, mengingat ritual Haji Bawakaraeng bukanlah gerakan massa yang kecil. Ada gerak sejarah yang tidak terjadi secara kebetulan. Ada gerakan sosial yang menanti untuk dipertemukan. Keyakinan dan pemaknaan terhadap sejarah menuntut gerakannya, sekiranya pemaknaan sejarah tak bermakna untuk masa depan ada kemungkinan bukanlah merupakan pemaknaan yang hakiki.

Dalam kehidupan ini, kita memilih sejarah apa yang kita yakini terjadi dan kebenarannya dimasa lalu. Itu arti penting belajar dan mengetahui sejarah sebab, ia akan menuntun masa depan kita. Ada sejarah yang  saya yakini berbeda dengan orang-orang sekitarku yang juga berbeda sikap terhadap Haji Bawakaraeng, begitu juga ada sejarah yang berbeda yang diyakini oleh mereka, warga dalam gerakan ziarah ataupun ritual mendaki di Bawakaraeng.

Laporan selengkapnya dapat diakses ke organisasi kami.

 

034/MAHESA/III/AP/2010

Komentar Anda?